Kemuliaan itu karena Budi Pekerti bukan Keturunan


Father & Son

Asy-syarofu bil adabi laa bin nasabi

Meski benar, tapi dalam dunia nyata, masih banyak yang tertipu. Aku dan kau mungkin juga masuk dalam yang sering tertipu ini.

Karena kita seringkali melihat seorang anak itu karena orang tuanya. Ketika kita melihat orang tuanya melakukan kejahatan, maka pastilah pandangan kita terhadap anaknya menjadi negatif. Ia adalah calon pelaku kejahatan.

Begitu juga sebaliknya. Jika kita melihat orang tuanya seorang yang baik budi pekerti dan memiliki kemuliaan, dalam pikiran kita, anaknya pastilah memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Ia adalah calon penebar kebaikan.

Memang buah apel itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tapi ada pohon apel yang kemudian dipetik manusia dan bijinya ditanam di daerah lain. Ada juga yang dimakan oleh hewan dan bijinya terjatuh dan tumbuh menjadi pohon apel di tempat baru yang jauh jaraknya.

Dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Salah seorang ustadz mengatakan “Jangan memustahilkan yang mungkin”.

Apakah mungkin anak seorang kyai berbuat maksiat yang lebih bejat dari penjahat? Sangat mungkin, selama dia masih menjadi manusia. Apakah mungkin anak seorang penjahat menjadi panutan kebaikan di masyarakat? Juga tidak mustahil, bila Allah berkehendak.

Nuh as. adalah seorang Nabi dan Rasul yang mulia, tapi Allah mengujinya dengan anak yang durhaka. Luth adalah Nabi dan Rasul yang menghadapi ujian umat yang durhaka, dan ternyata istrinya termasuk di antara mereka.

Ibrahim adalah bapak para Nabi dan Rasul. Namun ia tidak menjadi seperti bapaknya yang mendurhakai Tuhannya dengan membuat tuhan-tuhan lain selain Allah ta’ala.

Maka nilailah tiap manusia dengan akhlak yang kau lihat pada diri mereka. Bukan akhlak pada orang tua, anak, pasangan dan keluarga asal mereka. Karena sesungguhnya kemuliaan itu karena adab bukan karena nasab. Wallahu a’lam.

About these ads

3 thoughts on “Kemuliaan itu karena Budi Pekerti bukan Keturunan

  1. setuju mas. dalam konteks ini, sang anak akan hanya jadi korban atas apa yang dilakukan orangtuanya. yang mungkin awalnya bukanlah sebuah kenyataan, namun penghakiman itu justru akhirnya bisa membuat semuanya jadi kenyataan.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s