Ketika Anak Meng-Kafir-kan Orang Tuanya…


Sedih, ….. Marah,…. Itu adalah sesuatu wajar ketika mendengar cerita yang memilukan tentang ayah dari seorang anak bernama Muhammad Syarif.

Sang ayah menangis ketika, ia mengisahkan suatu saat ketika ia berdebat dengan sang anak. Hingga muncul sebuah kalimat dari sang anak yang mengatakan bahwa sang ayah adalah seorang kafir.

Rasulullah saja yang jelas-jelas memiliki seorang paman, Abu Thalib, yang kafir tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu. Bahkan beliau menghormati sang paman. Tapi sungguh perilaku dan perkataan sang Anak melebihi contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Hal yang membuat saya berpikir adalah betapa gampangnya sang pelaku mengatasnamakan Islam atas tindakannya tersebut. Saya tidak habis pikir. Islam yang mana yang mengkafirkan ayahnya sendiri? Islam yang mana yang menghalalkan darah muslim yang lain? Saya tidak tahu lagi Islam yang mana yang diamalkan.

Aku tahu, aku pun pernah merasakan gejolak semangat yang membara ketika pertama kali tersadar tentang betapa banyak maksiat yang telah kulakukan. Semangat Islamku menggelora, sehingga melihat semua hal selalu dengan hitam dan putih, benar dan salah. Aku bersyukur kepada Allah bahwa sebelum aku melakukan seperti yang dilakukan Syarif, aku bersemangat untuk membaca terutama membaca sirah atau sejarah Rasulullah. Dan juga buku-buku yang bercerita tentang sirah sahabat.

Ketika itulah aku menyadari betapa tolerannya Rasulullah. Namun di samping toleransi beliau yang besar, ada sebuah ketegasan yang jelas. Beliau tetap memberi makan kepada seorang yahudi buta yang ketika diberi makan masih mencaci maki Rasulullah. Beliau masih memaafkan Abu Sufyan, walaupun ketika masih di Mekkah, Abu Sufyan bersama Abu Jahal sama-sama memusuhi Rasulullah.

Begitu juga dengan kisah-kisah sahabat Rasulullah yang lain. Generasi sahabat adalah sebuah contoh perilaku kehidupan yang indah. Tidak ada sikap memusuhi akibat perbedaan tauhid. Yahudi dan Nasrani tidak dimusuhi. Selama mereka tidak menunjukkan niatan untuk memusuhi Islam dan mengusik masyarakat Islam, mereka akan bisa hidup berdampingan dengan aman.
Sungguh sangat disayangkan syarif tidak belajar dengan baik. Ia hanya melihat dan mendengar dari satu sisi. Ia gagal melihat kesempurnaan Islam yang toleran terhadap kehidupan sosial namun tegas terhadap tauhid. Semangatnya yang bergelora setelah mendapatkan pencerahan malah membuat langkah yang salah.

Hal Kedua yang menjadi perhatianku adalah, betapa tidak sabarnya dakwah yang dilakukan oleh Syarif dan gerakannya. Mereka tidak sadar bahwa dakwah Rasulullah bisa tersebar ke seluruh dunia setelah Rasulullah 23 tahun berdakwah. Bukannya waktu yang lama yang menjadi ukuran. Tapi perilaku ketika berdakwah itulah yang menjadi ukuran.

Ketika berdakwah, yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dengan menunjukkan perilaku yang sungguh mulia. Pun ketika sudah berada di Madinah, Rasulullah tidak serta merta mengusir Yahudi, kecuali kaum yahudi sendiri yang menunjukkan pelanggaran terhadap kesepakatan yang mereka sepakati dengan Rasulullah.

Aku berpikir, jangan-jangan mereka tidak sabar dan tidak tahan dengan kondisi dakwah. Karena banyak orang yang di lingkungannya tidak ikut dalam dakwahnya mereka panik. “Daripada saya berjuang dalam waktu yang lama dan tidak ada yang mau ikut. Lebih baik kita bunuh semua saja yang tidak mau ikut”. “Yang penting kita khan sudah berusaha”. Begitu mungkin ya!

Wallahu A’lam Bish Showab

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s