Guru Agama saja memintaku "contekan"


Ngobrol soal UAN jadi ingat masa muda dulu ketika masih SMA. Ndak usah tak sebutkan nama sekolahnya, nanti banyak yang marah. Intinya SMA ku adalah sekolah yang sangat kucintai terlepas dari berbagai kekurangan yang ada.

Aku masih ingat ketika itu, Ebtanas akan datang kalo tidak salah tiga hari lagi, aku dipanggil oleh Kepala Sekolah. Beliau meminta aku untuk berdiskusi berdua. Ternyata beliau minta agar aku memberikan contekan kepada teman-temanku. Ketika itu aku menjawab dengan gemetar tentunya, “Pak, saya bukannya sok suci, tapi kejujuran ini yang memang saya pegang sejak lama. Mungkin tinggal kejujuran ini yang saya punya. Kalo ini juga sampean minta untuk dikorbankan saya ndak mau.”

Wiss, Top banget poko’e jawabanku. Seketika itu pula Bapak Kepala Sekolahku terdiam. Aku pun kembali ke kelas.

Kukira itu adalah akhir usaha beliau tapi ternyata keesokan harinya kejadian itu berulang kembali. Tapi kali ini pelakunya beda…

Yang memintaku kali ini tidak tanggung-tanggung, Guru Agama..

Wah, ketika Guru Agamaku yang meminta… rasanya kok ganjil ya!

Tapi itulah yang terjadi… Akhirnya aku pun menyerah walaupun masih terasa berat dadaku ketika itu…

Kini mungkin aku bisa membandingkan… Ya walaupun sebenarnya tidak bisa dibandingkan sih. Sekolahku adalah sekolah swasta, di desa jauh dari fasilitas kota yang lengkap. Jumlah muridnya pun tak seberapa. Kelasku III IPA hanya ada satu kelas, isinya pun cuma 16 orang siswa. Kelas III IPS juga satu kelas dengan jumlah siswa hanya 10 orang.

Kalo ada siswa yang tidak lulus, bagaimana nasib sekolahku ke depan… Akan lebih sedikit lagi murid yang masuk. Lebih banyak lagi guru yang tidak sejahtera. Jadi bolehlah kalo sekolah yang swasta, fasilitas tidak lengkap, muridnya sedikit, banyak yang miskin pula untuk bercontekan. Karena kalau tidak guru, kepala sekolah dan karyawan sekolah akan kesulitan finansial.

Karena alasan itulah mungkin Guru Agamaku memintaku untuk memberikan contekan. Alhamdulillah seluruh siswa lulus.

Tapi ternyata hasil diskusi ku dengan salah satu dosen Unair yang jaga ujian membuyarkan pikiranku. Di sebuah SMU Negeri di Surabaya yang terkenal karena kualitasnya, mereka masih membutuhkan muridnya bercontekan agar lulus 100%. Yang jelas mereka juga pasti punya alasan bagus.

Tapi sekarang aku memiliki sebuah pemahaman baru. Kesulitan tidak boleh membuat kita menghalalkan segala cara. Karena sulit, bukan berarti kita boleh menyerah kepada keadaan. Karena tidak bisa, bukan berarti kemudian kita diijinkan memilih jalan yang salah. Kesulitan, ujian, cobaan hanyalah sebuah kondisi yang ada untuk menguji apakah kita menyerah atau tidak untuk tetap berada dalam kebenaran.

Untuk sekarang mungkin sebagian besar kita masih menyerah……

Wallahu A’lam Bish Showab.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s