Pekan yang Tak Efektif


Pekan lalu menurutku adalah pekan yang tidak efektif. Betapa tidak, tidak ada satu tulisan pun yang bisa kuhasilkan selama kurang lebih tujuh hari waktuku berlalu. Kalau ditanya kenapa? Mungkin aku sedikit malu menjawabnya. Tapi hal itu memang terjadi. “Aku kembali mengijinkan Game menyanderaku.”

Sudah bukan sesuatu yang aneh atau ganjil bagi orang yang dekat dan kenal denganku ketika mereka melihatku ‘very gamer’. Aku selalu mencari kesibukan yang berhubungan dengan game. Entah itu mencoba game baru atau mengulangi game-game yang dulu pernah kumainkan.

Pekan lalu yang menjadi mainanku adalah CM 2007, sebuah game lama memang. Tapi cukup menghibur. Melatih Peterborough, sebuah klub kecil yang ketika kumainkan ada di dua strip dibawah championship Inggris.

Klub kecil dengan gaji 300 pound per pekan sebagai manajer. Dan dana transfer pemain 20.000 poundsterling. Sangat kecil bagi sebuah klub di daratan Inggris. Tapi entah aku memang sejak dulu senang dengan game yang bisa memulai dari nol. Bekerja keras siang malam untuk memperbaiki klub yang kecil sehingga bisa masuk kasta di atasnya setahun demi tahun.

Karena game inilah hari-hariku dalam pekan lalu sangat tidak produktif. Padahal aku sudah tahu bahwa usia yang kugunakan atau waktu yang kugunakan untuk bermain itu seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih menghasilkan dan berguna. Namun setiap malam sepulang kerja sepertinya aku sudah tidak sabar untuk membuka laptop dan kembali bermain.

Ada banyak yang bertanya-tanya kenapa banyak orang yang sangat gila dengan game, bahkan ada yang meninggal gara-gara game. Jawabannya menurutku adalah karena game bisa menjanjikan kepuasan berkompetisi dengan resiko relatif kecil.

Di dunia nyata ketika berkompetisi, baik untuk membangun karier, citra, keluarga, akan selalu ada resiko dan kompensasi yang harus dibayar. Baik dengan uang, waktu, tenaga dan lain sebagainya. Yang terutama adalah penerimaan kegagalan ketika berusaha.

Yang terakhir inilah yang kemudian sering membuat orang untuk menghindari dunia nyata dan beralih ke dunia maya. Rasa sakit ketika gagal di dunia maya bisa disembunyikan. Tidak ketahuan, sementara di dunia nyata akan ada banyak orang yang tahu ketika kita telah gagal.

Yang kedua, bila kita gagal di dunia maya, seperti terbunuh dalam permainan game, kita bisa kembali hidup atau membuat profil lain dari diri kita. Sementara di dunia nyata ketika kita gagal akan banyak orang yang bersorak dengan kegagalan kita, mungkin juga kita tidak bisa kembali karena orang lain sudah memberikan cap gagal pada diri kita.

Mungkin itulah enaknya untuk bermain game. Karena kita bisa meminimalisir resiko untuk merasakan kegagalan.

Sepertinya masih harus belajar agar berani menerima kegagalan dan kembali mengulang dan bangkit setelah gagal. Karena memang itulah yang menjadi rahasia orang-orang sukses.

Wallahu A’lam bish showab

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s