Mengakui Kelemahan, Berani?


Bila kamu adalah seorang manajer atau pimpinan, kapan terakhir kali kamu mengucapkan kalimat ini:

“Saya tidak tahu”

“Saya yang salah”

“Maaf ya”

“Bisakah kamu menolongku?”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Bisa kau jelaskan kepadaku tentang hal ini. Aku kok tidak mengerti?”

Siapapun ia,  tidak senang mengakui bahwa ia tidak tahu atau tidak bisa. Tapi bila ia menghindarinya, malah efektifitasnya sebagai pemimpin akan turun.

Contoh, Ita seorang guru yang telah meluluskan 100% siswa kelas enam selama empat tahun berturut-turut diangkat menjadi seseorang yang bertanggung jawab dalam penentuan kurikulum sekolah. Ia menganggap bahwa pelajaran yang diberikan di kelas satu dan dua selama ini terlalu banyak bermain dari pada belajar.

Ia tidak tahu bahwa pada usai kelas satu dan dua memang bermain yang diutamakan untuk meningkatkan perkembangan sang anak. Ketika ia menyusun kurikulum bagi siswa kelas satu dan dua, para guru mempertanyakan keputusannya yang mengurangi porsi bermain bagi anak-anak.

Ia bersikukuh posisinya yang sekarang adalah karena kemampuannya dalam meluluskan siswa kelas enam memegang peranan yang penting. Ia melihat banyak guru yang tidak senang dengan keputusannya.

Suatu ketika ia bertanya kepada salah seorang guru kelas satu tentang proses belajar mengajar di kelas satu. Dari diskusi itu barulah ia mengerti bahwa bermain adalah sesuatu yang penting dalam belajar bagi usia anak kelas satu atau dua SD.

Dalam kesempatan rapat berikutnya ia lebih sering mendengar usulan dari para guru. Dan hasilnya para guru jarang mempertanyakan keputusan yang ia buat. Dan ketegangan dalam rapat kini jarang terjadi lagi.

Jadi orang yang tidak mengakui kelemahannya akan menjadi orang yang tidak mau belajar. Hal ini kebalikan dari kisah di atas akan berpotensi membuat ketegangan antar personal dalam organisasi semakin meningkat.

Alasan kedua anda sebaiknya anda tetap mengakui kelemahan anda adalah masalah kepercayaan. Dasar dalam memimpin sebuah organisasi adalah kemampuan pimpinan dalam mempengaruhi yang dibawahnya agar mempercayai mereka sebagai pimpinan, kepercayaan bahwa anda sebagai pimpinan telah melakukan hal yang benar.

Bila seorang pimpinan tidak tahu tapi berpura-pura tahu di hadapan orang yang memiliki keahlian lebih dari pada kita akan membuat kepercayaan mereka cepat pudar. Orang-orang sebenarnya tahu bahwa pimpinannya tidak tahu akan semua hal.

Intinya ada dua sisi dalam permasalahan ini. Di satu sisi, bawahan akan menghargai dan menghormati kesadaran akan kelemahan dan keinginan pimpinan untuk belajar. Tanpa hal tersebut akan banyak bawahan yang tidak percaya. Di sisi lain, terlalu banyak ekspresi kelemahan, terlalu sering melakukan kesalahan juga akan meningkatkan ketidakpercayaan bawahan kepada pimpinannya.

Wallahu A’lam

sumber Harvard Business Review

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s