Barangsiapa bersungguh-sungguh ia akan mendapatkannya


مَنْ جَدَّ وَجَدَ

Mahfudzot ini adalah mahfudzot nomor kedua. Yang ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Memang ini sudah menjadi judul sebuah buku yang best seller. Tapi tahukah anda arti sebenarnya dari kata-kata di atas?

“Jadda” secara harfiah memang bersungguh-sungguh. Namun bersungguh-sungguh yang bagaimanakah ia? “wajada” yang artinya mendapatkan juga mendapatkan apa?

Dari kamus Bahasa Arab, Al-Munjid, kucari kata-kata “jadda”. Ternyata artinya memberikan sebuah penekanan yang lebih spesifik yakni tingginya usaha seseorang baik dari segi kuantitas dan kualitas. Itulah “jiddiyah” atau kesungguhan. Sungguh-sungguh yang “jadda” harus memenuhi dua kualifikasi ini.

Ia harus menunjukkan frekuensi yang rutin yang lebih dari usaha pada umumnya sehingga ia layak dinyatakan sebagai sesuatu yang “jadda”. Bila ia masih dijumpai sebagai sesuatu frekuensi yang umum maka ia belum layak dikategorikan sebagai “jadda”.

Bila seorang penulis ingin dikatakan sebagai seseorang yang benar-benar bersungguh-sungguh maka ia harus menunjukkan dengan usaha yang frekuensinya melebih penulis pada umumnya. Bila seorang atlet ingin dikategorikan sebagai sesuatu yang benar-benar sungguh-sungguh, maka ia harus melatih dirinya melebihi atlet-atlet pada umumnya.

Namun tidak cukup dengan frekuensi. Kualitas juga berpengaruh penting. Orang yang bersungguh-sungguh tidak hanya membutuhkan rutinitas yang lebih, tapi rutinitas yang memang berkualitas.  Kalau dalam bahasa kerennya lebih dikenal dengan kerja cerdas.

Bila seseorang telah berusaha dengan kedua kualifikasi “jadda” maka ia akan “wajada” menemukan sesuatu yang sebelumnya hilang. Dalam kata lain, ia akan mendapatkan sesuatu yang melebihi dari yang ia harapkan.

Betapa banyak penemuan yang besar ternyata dari hasil kerja keras yang sebelumnya ia tidak berharap menemukan hal tersebut. Ia sebenarnya mengharapkan hal yang lain, namun karena kerja keras dan kerja cerdasnya ia menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia impikan sebelumnya.

Sudahkah kita ber-“Man Jadda Wajada”. Sudahkah kita berusaha lebih sering dan lebih berkualitas dari kebanyakan manusia? Bila sudah niscaya kita akan menemukan sesuatu yang cemerlang yang hilang dalam kehidupan kebanyakan manusia.

Wallahu A’lam Bish Showab

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s