Perang Badar bagi Wanita


Tema ini tidak sengaja teringat ketika aku sedang berkendara menuju kantor. Entah kenapa pikiran ini muncul kembali. Mungkin ia ingin dituangkan dalam kata-kata, pikirku.

Perang Badar adalah perang yang fenomenal dalam sejarah Islam. Ketika Rasulullah dan umat Islam hanya berniat untuk mencegat kafalah dagang Abu Sufyan, ternyata Allah menyiapkan skenario lain dalam kejadian saat itu. Mereka dengan peralatan yang seadanya karena tujuan awalnya adalah untuk mencegat harus berhadapan dengan pasukan yang jumlahnya mencapai tiga kali lipat dan perlengkapan perang yang benar-benar matang dipersiapkan.

Kita mungkin sudah tahu bagaimana kelanjutan kisah heroiknya. Namun saat ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang heroiknya perang Badar dan para pelakunya. Tapi aku akan sedikit membayangkan apa yang terjadi di baliknya.

Bila suami pergi berperang, pastilah sang Istri sadar apapun bisa terjadi ketika perang. Luka, kehilangan anggota badan, bahkan syahid, meninggal di jalan Allah. Bila mereka, para istri pejuang Islam tidak menyadari dan memahami hal ini sebagai sebuah bagian dari jalan yang sudah digariskan Allah bersediakah mereka untuk ditinggal tanpa ada kejelasan masa depan?

Bila para istri ketika itu tidak memiliki pemahaman yang sama akan jihad, bisa jadi kebalikannya yang terjadi. Ketika suami akan pergi berangkat, si istri akan merengek meminta agar membatalkan perjalanannya. Atau ia akan bersedih, “Bila nanti engkau meninggal Bang, siapa yang akan memberikan nafkah kepada kami? Siapa yang akan mendidik anak-anak kita?”

Dan bila suami sudah ditanya tentang hal tersebut, pastilah muncul keraguannya dalam melakukan perjalanan.

Maka ketika sebuah perang terjadi, heroiknya pergulatan perang memang sangat sering diceritakan. Namun bagaimana dengan pergulatan rumah tangga yang ada? Jika saja para ibu dan istri tidak rela suami dan lelaki di keluarganya berangkat mungkinkah terjadi kisah heroik itu? Tidak.

Oleh karena itu, bukan kisah heroik saja yang harus diperhatikan dalam sebuah peperangan. Kesediaan, pemahaman, kerelaan untuk menerima takdir apapun yang diberikan oleh Allah juga menjadi sebuah keharusan dalam sebuah rumah tangga Islam.

Oleh karena itu bukan persiapan diri dan perbekalan perang saja yang dipersiapkan. Istri, anak dan keluarga juga harus dipersiapkan untuk menapaki jalan perjuangan Islam.

Wallahu A’lam Bis Showab

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s