Diakhiri dengan Takdir yang Berbeda


“Ya Allah Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini dalam diin-Mu” Doa ini sebaiknya kita dawam-kan ketika menjelang salam setiap shalat. Bagaimana tidak bila kita mengetahui dua kisah dengan awal yang berbeda dan diakhiri juga berbeda berikut ini.

Kisah pertama adalah kisah tentang tukang-tukang sihir Fir’aun ketika menghadapi Musa as. Mereka adalah para sahabat Fir’aun di pagi hari.

Mereka diundang oleh Fir’aun untuk mengalahkan Musa dengan sihir mereka.”Apakah kami akan mendapatkan ganjaran yang besar bila kami bisa mengalahkan Musa” Itu kata mereka.

“Oh, tentu saja, kalian akan mendapatkan ganjaran yang besar, dan kalian akan menjadi orang-orang dekatku”. Jawab Fir’aun.

Kemudian berlanjutlah kisah tersebut sebagaimana di Surat Thahaa 57-76.

Ketika mukjizat Musa mengalahkan mereka, serta merta mereka bersujud dan mengaku beriman kepada Allah, Tuhan Musa dan Harun. Marahlah Fir’aun.

Ia mengancam mereka yang telah tunduk kepada tuhan selain dirinya. “Akan kupotong tangan dan kaki kalian, dan akan kusalib bila tetap mengaku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.”

“Silahkan sajalah kau mau melakukan apa saja kepada kami, itu hanya bisa kamu lakukan di dunia ini saja Fir’aun, tapi di akhirat, kami telah dijanjikan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” Jawab para mantan tukang sihir tersebut.

Dalam Kisah Para Nabi dan Rasul karangan Imam Ibnu Katsir, Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah penentang Allah di pagi hari dan menjadi syuhada’ di siang hari. Subhaanallah.

Sedangkan kisah kedua adalah ketika Rasulullah menyatakan menjelang perang Khaibar bahwa akan ada orang yang berperang bersama umat Islam tapi dia masuk neraka. Maka ketika perang telah berakhir, para sahabat melihat orang yang dikabarkan oleh Rasulullah dalam kondisi yang luka parah. Namun mereka melihat ia berperang dengan sungguh-sungguh, apakah benar dia akan masuk neraka? Kenapa Rasulullah mengabarkan ia akan masuk neraka padahal dia berperang dengan sungguh-sungguh.

Di malam hari, ternyata diketahui orang tersebut kemudian bunuh diri karena tidak tahan dengan rasa sakit akibat luka peperangan yang dideritanya. Na’udzu billah min dzalik.

Sebuah kondisi yang berkebalikan. Yang pertama di pagi hari menjadi penentang Allah dan siang harinya bergelar syuhada’. Dan yang kedua, ketika berperang seakan-akan menjadi seorang pahlawan, nyatanya malah menjadi ahli neraka.

Memang yang dinilai Allah adalah di akhirnya. Maka, mari berdoa semoga kita senantiasa diberi keimanan hingga akhir hayat dan husnul khotimah (baik di akhirnya).

Wallahu A’lam Bishshowab.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s