Jika Ternyata Ta’aruf tak Menjamin Langgeng….


“Bila proses menikah dengan ta’aruf tidak menjanjikan kelanggengan, ya buat apa?” Pernyataan salah seorang sahabat. Dia masih lajang bertanya-tanya dari hasil penglihatannya. Dan kesimpulannya menggelisahkan. Ternyata tidak semua proses menikah dengan jalan yang tanpa pacaran alias ta’aruf bisa langgeng. Bahkan ada yang tanpa pacaran pun bisa langgeng. Terus kenapa harus dengan ta’aruf yang ribet.

“Menarik juga pernyataannya” pikirku. Kalau memang tidak bisa menjamin kelanggengan kenapa harus dipaksakan? Toh tidak ada jaminannya.

Bagaimana bila pertanyaan tersebut kita tingkatkan levelnya sedikit atau kita geser ke arah yang lain. “Apakah ada jaminan bahwa orang yang berusaha itu menjadi kaya?” Jawabannya pasti juga tidak ada. Terus kenapa kok terus berusaha?

“Apakah ada jaminan bahwa orang yang belajar itu pasti sukses?” Jawabannya juga tidak ada jaminan. Terus kenapa terus belajar?

“Apakah ada jaminan bahwa orang yang sholat itu akan diterima sholatnya?” Jawabannya juga tidak ada. Terus kenapa terus sholat?

Dan akhirnya mungkin ada juga nanti pertanyaan yang menjurus seperti ini. “Apakah ada jaminan bahwa orang hari ini muslim, ketika meninggal juga dalam keadaan muslim?” atau “Apakah ada jaminan bahwa orang yang menjaga kesehatannya dengan menjaga asupan gizinya, berolahraga rutin akan hidup selamanya?” Jawabannya juga sama tidak ada.

Tidak ada jaminan apapun.

Terus mengapa kita tetap melaksanakannya? Jawaban yang menurutku bisa menenangkan kegundahan sahabatku adalah karena Allah meminta kita melaksanakannya.

Kenapa kita tidak diperkenankan pacaran dan dianjurkan dengan proses ta’aruf? Karena Allah sebagai Dzat yang kita akui sebagai Tuhan meminta kita melaksanakannya. Allah melarang kita mendekati zina. Ini juga menunjukkan ketundukan, kepasrahan, kecintaan kita kepada Allah yang telah sama-sama kita akui sebagai satu-satunya Rabb.

Kenapa kita tidak diperkenankan untuk menganggur dan diperintah untuk berusaha? Karena Allah sebagai Dzat Pengatur Rizki makhluk meminta kita untuk menjauhi menjadi beban bagi orang lain. Ia meminta kita sebagai makhluk-Nya untuk menghindari menjadi peminta-minta.

Kenapa kita tidak diperkenankan menjadi orang yang bodoh dan disuruh untuk belajar? Karena Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, meminta kita untuk membaca dan belajar sehingga akan bertambah kebaikan dari ilmu yang kita dapatkan.

Karena Allah menyuruh kita. Bukan karena manfaat yang telah kita ketahui. Kita shalat bukan karena gerakan shalat membantu kebugaran. Kita shalat karena Allah meminta kita untuk shalat dan gerakannya sudah ditentukan-Nya melalui Rasulullah.

Kembali lagi ke topik pertanyaan di atas. Tidak ada jaminan bahwa yang cara Islami itu akan lebih langgeng. Zainab yang awalnya dinikahkan dengan Zaid oleh Rasulullah saja kemudian ternyata harus cerai. Bukan langgengnya pernikahan itu menjadi tujuan. Tapi sesuaikah caranya dengan yang diinginkan oleh Allah SWT.

Itulah ujiannya syahadat. Kita sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak disembah dan dita’ati adalah Allah. Kita juga sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak diikuti adalah Rasulullah. Sekarang tinggal bagaimana kita menjalani yang sudah kita ucapkan.

Wallahu A’lam bish Showab

Bagaimana menurutmu?

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s