Itu Namanya Penakut?!!


“Belum juga dijalani sudah takut duluan”. Kata-kata itu biasanya sering kuucapkan untuk diriku sendiri. Tapi ternyata kalau keluar dari orang lain rasanya jauh lebih menohok. “Mak jlebb

 Setiap kali aku menulis atau memberikan materi kajian atau apapun, ada rasa-rasa ngeri yang muncul. Bagaimana kalau nanti Allah mengujiku dengan apa yang kutulis, kusampaikan dan kunasihatkan. Dan bagaimana bila nanti ternyata di ujian itu aku tidak lulus. “Apa kata dunia?”

 Yang terbayang adalah, “Kajian tentang sabar, tapi kehilangan uang Rp 50 ribu saja sudah panik”. “Memberikan nasihat tentang sedekah, tapi bersedekah Rp 100 ribu saja beratnya minta ampun”. Menyampaikan bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Allah, tapi ketika dapat musibah malah mengeluh.”

 Akhirnya muncullah pikiran, “Apa sebaiknya tidak usah menulis, mengisi kajian dan menyampaikan nasihat saja ya? Kan nanti ujiannya jadi lebih ringan. Atau paling tidak, tidak ada rasa bersalah ketika gagal dalam menjalani ujian kehidupan dari Allah, karena kita tidak menyampaikan ke orang lain.

 “Itu namanya penakut”, kata istriku. “Semua yang kau khawatirkan itu khan belum terjadi. Mau menyampaikan nasihat atau tidak, manusia hidup itu akan dapat ujian. Mau menulis untuk mengajak kebaikan atau tidak, manusia semuanya akan mengalami ujian. Kalau semua mendapatkan ujian, kenapa tidak memilih ujian yang terbaik. Bukankah ujian juga menjadi bukti kebenaran yang kita ucapkan?”

 Ya, jiwa penakut itu kadang-kadang masih menggelayuti pikiranku, pun hingga aku menuliskan tulisan ini. Karena aku yakin, nanti pasti akan muncul ujian dari Allah untuk membuktikan, apakah aku ini sesuai dengan yang kuucapkan atau kutuliskan atau tidak.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?     

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. 29: 2-3)

Tapi sekali lagi, semua manusia hidup di dunia ini tidak lepas dari yang namanya ujian. Terkadang menurut orang lain ujian kita berat, tapi ringan dalam pandangan kita. Dan kadang juga menurut kita berat, ternyata bagi orang lain adalah sesuatu yang mudah. Terus bila memang sama-sama diuji, kenapa takut dengan ujian? Takut, menghindar dan lari pun tetap akan dapat ujian.

Terima saja ujian, hadapi dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak menginginkan keburukan bagi hamba-Nya.

Terima kasih buat istriku yang mengingatkanku di masa-masa galau.

Wallahu A’lam bish Showab    

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s