Optimis = Bodoh???


Apa tidak salah judul di atas? Optimis khan sesuatu yang baik, kenapa disandingkan dengan kebodohan? Berikut penjelasannya.

Optimisme memang sesuatu yang baik. Hal ini sudah diuji dan diteliti bertahun-tahun. Optimisme adalah syarat untuk mencapai keberhasilan atau sukses. Albert Bandura, sang peneliti optimisme manyatakan bahwa fakta ini hingga sekarang tidak terbantahkan.

Namun ternyata, kita juga harus berhati-hati bahwa optimisme juga ada yang berbahaya seperti judul di atas. Bukankah sudah banyak motivator-motivator yang mengatakan bahwa yakinilah bahwa kesuksesan akan datang dengan mudah, maka hasilnya kesuksesan itu akan datang.

Menurut Heidi Grant Harvolson, pernyataan-pernyataan seperti inilah yang mendekatkan optimisme itu dengan kebodohan. Menurutnya ada dua pernyataan yang hampir mirip tapi sesunggunya berbeda yakni antara keyakinan berhasil dan keyakinan berhasil dengan mudah. Oleh karenanya menurutnya ada dua macam orang yang optimis,

  1. Realistic Optimist (optimis sekaligus realistis)
  2. Unrealistic Optimist (Optimis namun tidak realistis)

Para realistic optimist inilah yang dimaksud oleh Bandura. Mereka yakin akan berhasil. Namun keyakinan itu juga diwujudkan dengan perencanaan yang matang, kerja keras, strategi dan segalah daya upaya. Mereka (para realistic optimist) sadar bahwa kesuksesan yang mereka yakini membutuhkan pengorbanan dan proses untuk mecapainya.

Keuntungan dari orang yang realistic optimist adalah ketika mereka menemukan permasalahan dalam mencapai kesuksesannya, mereka tidak patah semangat, karena mereka sejak awal menyadari bahwa akan dibutuhkan kerja keras dan permasalahan itu akan datang. Dan ketika benar-benar permasalahan itu datang, mereka pun merasa bahwa memang inilah jalan kesuksesan yang selama ini telah mereka bayangkan.

Sebaliknya, para unrealistic optimist, mereka hanya bermodalkan keyakinan semata bahwa alam semesta akan memberikan jawaban atas keyakinan kesuksesan yang telah mereka miliki. Mereka mengira hanya dengan berpikir positif akan mendatangkan kesuksesan dengan sendirinya.

Bukti dari Penelitian Diet (oleh Gabriele Oettingen)

Dua model ini sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian tentang proses menurunkan berat badan. Ada tiga kelompok wanita yang masing-masing mendapatkan perlakuan berpikir positif yang berbeda, yang pertama adalah dengan berpikir pesimis atau ragu-ragu dengan program dietnya, yang kedua dengan menanamkan keyakinan bahwa mereka akan dengan mudah mendapatkan berat ideal, dan yang ketiga adalah dengan menanamkan pikiran positif mereka akan mendapatkan berat ideal namun mereka juga diminta untuk membayangkan bahwa mereka akan mendapatkan tantangan yang tidak sedikit.

Dan hasilnya adalah, mereka yang yakin bahwa mereka akan berhasil dengan mudah (kelompok II), ternyata bisa menurukan berat badan hingga 12 kg lebih banyak dari yang ragu-ragu (kelompok I). Sedangkan yang meyakini keberhasilan itu datang namun dengan diikuti dengan permasalahan yang akan mereka hadapi (kelompok III) berhasil menurunkan badan 11 kg lebih banyak dari bermodalkan keyakinan saja (kelompok II).

Penelitian Lain

Gabriele Oettingen juga menemukan pola yang sama dalam penelitian tentang proses mencari kerja setelah lulus kuliah, mencari pasangan, dan proses penyembuhan pasca operasi. Orang yang realistic optimist ternyata mengirim lebih banyak lamaran, lebih berani untuk menemukan pasangan, dan lebih bekerja keras dalam latihan rehabilitasinya – yang akhirnya, menjadikan masing-masing memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi.

Kesimpulan

Meyakini bahwa jalan menuju kesuksesan akan berbatu ternyata menuntun potensi sukses lebih besar karena keyakinan tersebut akan memaksa anda untuk mengambil tindakan. Orang yang percaya bahwa mereka akan sukses dan dengan seimbang mempercayai bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah, berusaha lebih keras, merencanakan bagaimana mereka akan menangani masalah sebelum masalah itu muncul, dan tegar lebih lama dalam menghadapi kesulitan.

Sementara orang yang unrealistic optimist akan mengatakan bahwa anda ini “terlalu negatif” bila anda khawatir, membuat rencana cadangan dan terlalu lama untuk memikirkan masalah yang ada merintangi jalan menuju kesuksesan. Padahal sebenarnya cara berfikir seperti ini adalah sebuah langkah yang penting meraih kesuksesan dan bukan bentuk dari ketidakyakinan. Bila kita hanya fokus pada yang kita inginkan dan tidak mengindahkan hal yang menyertainya adalah sebuah cara berpikir yang naif dan ceroboh (bodoh) yang telah memunculkan banyak persoalan bagi banyak orang.

Tumbuhkanlah realistic optimisme dengan mengkombinasikan perilaku positif dengan sebuah penilaian yang jujur mengenai tantangan yang akan menyertai kesuksesan. Jangan memvisualisasikan kesuksesan saja – visualisasikan juga langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk membuah kesuksesan terjadi.

Disarikan dari Be an Optimist Without Being a Fool, karya Heidi Grant Halvorson.

Heidi Grant Halvorson, Ph.D. adalah seorang motivator psikolog dan pengarang dari buku Succeed: How We Can Reach Our Goals (Hudson Street Press, 2011). Dia juga adalah seorang blogger yang ahli tentang motivasi dan kepemempinan bagi Fast Company and Psychology Today. Blog pribadinya, The Science of Succes bisa di akses di www.heidigranthalvorson.com

Wallahu A’lam Bishshowab

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s