Menjadi Milk Shake


Australia yang sibuk membangun Jaringan jalan raya

Letaknya di Desa Krangkong, Kecamatan Kepuh Baru, Bojonegoro. Itulah rumah Mas Sis, kakak iparku. Ia adalah suami dari Mbak-nya istriku. Kami di hari Selasa sudah sepakat untuk berkunjung ke sana. Bersilaturahim dan menjenguk orang tua Mas Sis yang dikabarkan sakit.

Yang menjadi menarik dalam perjalanan tersebut adalah kondisi jalannya. Subhaanallaah. Perjalanan yang memakan waktu satu jam, setengah jamnya serasa berada di hutan. Bukan suasananya tapi jalannya. “Duh susahnya berbuat baik” kataku dalam hati. “Mengunjungi saudara sesama muslim dan menjenguk orang sakit saja kok sampe’ sakit semua rasanya badanku karena serasa jadi milk shake, dikocok dari awal hingga akhir.”

“Wah tidak heran yo, kalo si Ipul begitu sampe’ rumah mbahnya di Bojonegoro kota, langsung minta ke alun-alun dan Bravo.” Sahut istri dan mbah-mbahku yang ikut serta dalam mobil. Kami berenam, sopir, ibu mertuaku, mbah-mbah dua orang, aku dan istriku.

Aku berpikir, “Kalau saja pemerintah tanggap, dengan menggarap serius persoalan infrastruktur berupa jalan betapa besar manfaat yang didapat.”

Bila seorang dari pusat barang dan jasa ingin menjajakan produknya di desa seperti Krangkong, dia harus menghitung beberapa variabel selain harga produknya. Pertama adalah ongkos bensin, karena jalan yang rusak, tidak mungkin dia bisa sampai dalam waktu yang cepat, semakin lama mesin transportasi dalam kondisi nyala semakin banyak cost yang harus ia bayar. Kedua, resiko kerusakan mesin. Bila dalam kondisi jalan yang rusak sedangkan kendaraan yang ada hanya alakadarnya bisa dipastikan kendaraannya harus sering-sering mampir ke bengkel. Ketiga adalah resiko kecelakaan. Kondisi jalan yang rusak kecelakaan bisa saja terjadi baik kepada kendaraan atau pengguna jalan lain.

Dan hasilnya bisa ditebak, ongkos yang harus dibayar atau dibebankan pada produk akan naik dan harganya di pasaran akan semakin mahal. Harga kebutuhan yang didapatkan dari luar akhirnya melambung.

Itu bila hanya satu orang, bagaimana bila dengan kondisi satu desa. Bagaimana bila ada kecamatan yang secara infrastruktur jalan belum memadai. Berapa biaya yang harus dibayar untuk sampai di kecamatan tersebut. Banyak orang yang sakit tidak tertangani, karena akses menuju pelayanan kesehatan juga sulit. Banyak orang yang susah mendapatkan pendidikan, disebabkan akses menuju pusat pelayanan pendidikan susah dijangkau. Dan lain sebagainya.

Kabarnya Cina di tahun 2009 sudah mencanangkan akan membangun jalan raya sepanjang 300.000 km di wilayah pedesaan. Di tahun 2011 saja China sudah memiliki jalan tol (High way) sepanjang 85.000 km. Pencapaian yang besar bagi sebuah negara yang kita sindir sebagai negara komunis. Tidak heran bila harga kebutuhan di kota dan di desa tidak terlalu jauh berbeda murahnya.

Dengan adanya jalan raya yang berkualitas dan terencana, pertumbuhan sebuah negara juga akan meningkat. Dan menurutku inilah salah satu inti hidup dari pemerintah, menyiapkan infrastruktur bagi pertumbuhan masyarakatnya.

Wallahu A’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s