Apakah Syahadat Kita Emosional?


Menolak, atau menerima sebaiknya bukan karena emosi.

Abu jahal, kita sudah sangat mengenalnya dari sejarah. Ia sebenarnya adalah paman Nabi Muhammad. Artinya dia sangat tahu tindak-tanduk dan keunggulan Nabi Muhammad. Hal ini terbukti ketika Nabi mengumpulkan kaum kerabatnya di sebuah bukit dan berkata kepada mereka, “Bila aku katakan kepada kalian bahwa di balik bukit ini ada sebuah pasukan berkuda, apakah kalian mempercayaiku?”

Abu Jahal menjawab, “Tentu saja kami percaya, engkau adalah orang yang dapat kami percaya (Al Amin).” Dan memang begitu adanya. Kerabat Muhammad saw tidak ada satupun yang menyangsikan kejujurannya. Dia tidak pernah sekalipun bohong.

Namun mengapa ketika Muhammad saw meminta mereka bersyahadat mereka menolak? Apakah mereka kemudian membantah kejujurannya? Tidak, kejujuran seorang Muhammad tetap mereka akui. Dengan kata lain, mereka tahu bahwa Muhammad adalah memang benar seorang nabi dan rasul. Mereka juga sadar bahwa Muhammad memang mengatakan yang sebenarnya bahwa tidak ada yang layak untuk disembah selain Allah dan ia adalah utusan-Nya.

Lalu mengapa mereka tidak mengakui dan bersyahadat? Jawaban yang sering kita dengar adalah hal itu akan mempengaruhi kekuasaan mereka. Atau karena mereka tidak mendapatkan hidayah dari Allah dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Tapi pastinya ada sebuah proses pemikiran mengapa mereka tidak bersyahadat. Bagaimanakah sebenarnya cara berpikir mereka?

Pertanyaan tentang cara berpikir ini mendapat titik terang ketika aku membaca buku “Buyology”. Sebenarnya aku berniat untuk mengetahui kenapa orang membeli sebuah produk. Bagaimanakah cara berpikir sebagian besar manusia sehingga mereka memutuskan untuk menggunakan produk tertentu padahal banyak produk yang ditawarkan.

Dan yang mengejutkan, dalam buku tersebut juga menunjukkan bahwa cara berpikir orang dalam memutuskan menggunakan produk sama dengan proses dalam beragama. Artinya cara berpikir sebagai besar orang ketika memilih dan melakukan aktivitas keagamaan tidak jauh berbeda dengan cara mereka memutuskan untuk membeli atau menggunakan produk.

Bagaimana cara berpikir sebagai besar orang ketika membeli produk? Ingat ini hanya sebagian besar tidak semua orang.

Emosi. Inilah yang menjadi cara berpikir bagaimana orang membeli produk. Bukan manfaat, keuntungan dan keamanan produk yang digunakan. Tapi bagaimana produk tersebut bisa membangkitkan emosional seseorang. Sebagai contoh, dalam sebuah iklan sepatu, ditunjukkan bahwa yang menggunakan sepatu tersebut cantik, bertubuh ramping dan ideal. Sebenarnya hal itu adalah sebuah cara untuk membangkitkan emosi merasa cantik, ramping dan sehat bila menggunakan sepatu tersebut.

Dalam contoh lain mengapa kebiasaan merokok tetap meluas meski sudah banyak peringatan pemerintah. Hal ini tidak lain karena merokok memunculkan image bahwa merokok itu macho, hebat, berenergi, sukses dan lain sebaginya. Ditambah lagi fakta bahwa seseorang yang mulai merokok itu dimulai dengan anggapan kalau tidak merokok itu tidak jantan. Sisi emosional, ego yang selalu muncul bukan sisi logis dan ilmiah.

Demikian juga dengan orang memilih dan melakukan aktivitas keagamaan. Mereka cenderung melakukannya karena emosional. Ibu dan bapaknya telah memilih Islam, masa anaknya tidak memilih Islam. Apakah anaknya tidak cinta dengan ibu dan bapaknya? Emosi yang terbangun antara orang tua dan anak inilah yang akhirnya menjadi jembatan sang anak menjadi muslim.

Ketika Ramadhan, banyak orang yang berpuasa, shalat berjamaah, tarawih, tadarus, dan lain sebagainya bisa jadi karena ada sisi emosional yang muncul. Masa, semua orang di lingkungannya shalat tarawih di masjid dia tidak berangkat. Malu dong!? Semua teman-temannya tadarus, masa dia tidak berangkat. Itu tidak setia kawan namanya?!

Semua respon-respon di atas adalah respon yang emosional. Dan inilah juga yang menjangkiti Abu Jahal beserta kawan-kawannya. Ketika mereka memilih Islam (bersyahadat) artinya mereka meninggalkan agama dan tradisi nenek moyangnya. Dan yang muncul dalam otaknya adalah bahwa mereka berkhianat kepada ibu-bapaknya, para gurunya, sesepuhnya dan semua orang yang berada di lingkungannya. Emosi mereka berisi kejelekan-kejelekan yang akan mereka dapatkan bila berislam.

Inilah yang bisa menjelaskan mengapa Abu Thalib tidak berada dalam barisan Islam hingga hayatnya. Ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ia tidak ingin menjadi sesepuh yang membelot dari kaumnya. Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak membalas budi para gurunya. Maka ia lebih memilih agama dan tradisi nenek moyangnya meski ia tahu bahwa Muhammad adalah orang yang jujur dan yang dikatakannya adalah kebenaran. Emosional, yang memutuskan, bukan logika dan rasio.

Apakah kemudian tidak boleh berislam dengan modal emosional? Boleh tapi sangat riskan. Karena dalam Islam emosional itu berarti kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Dan untuk menimbulkan kecintaan (emosi) terhadap Allah dan Rasul-Nya, hati dan pikiran harus dipupuk dengan pengetahuan dan ilmu bukan dengan emosi-emosi liar semata (mencintai tradisi).

Bagaimana dengan anda? Apakah keputusan berislam anda logis dan rasional, atau karena emosional dengan orang yang anda cintai, orang tua, saudara, teman, pasangan, anak, tetangga, masyarakat? Mari bersegera memilih Islam karena Islam-lah yang benar

Inti hidup kita kali ini adalah berhati-hati dengan cara berpikir akal kita. Apakah rasional atau emosional?

Wallahu A’lam Bish Showaab

3 thoughts on “Apakah Syahadat Kita Emosional?

  1. Pingback: Dan Mereka Kembali Bertanya kepadamu tentang Khamr…. | Inti Hidup

  2. Pingback: Budi Pekerti Yang Buruk itu Menular | Inti Hidup

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s