It’s a Wonderful Life


Kita mungkin pernah mengharapkan untuk menjadi orang yang lebih. Lebih hebat, lebih kaya, lebih bahagia. Intinya lebih dari sekedar hidup kita sekarang ini yang mungkin kita pandang tidak terlalu lebih. Juga tidak terlalu cukup. Dan bahkan seringkali kurang.

Film ini adalah film yang cukup lama (1946). Meski berisi tentang peristiwa yang berhubungan dengan agama Nasrani (natal), tapi film ini juga memberikan pelajaran penting, hikmah dan inti hidup yang berharga. Dan bukankah hikmah itu adalah bagian dari Islam, dan muslimlah yang berhak mendapatkan hikmah ini.

Film ini bercerita seseorang yang impiannya untuk menjelajah dunia harus ia kubur, karena ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap usaha ayahnya yang meninggal. Ia menjadi kontraktor bagi para warga miskin sehingga mereka bisa mendapatkan rumah dengan harga yang murah dengan sistem kredit.

Meski ia bahagia dengan keluarga sempurna yang ia miliki, usaha kebaikan warisan ayahnya, ketika ia melihat orang lain yang berhasil menjelajah dunia, dia merasa ada sebagian dirinya yang hilang. Masih terasa kesedihan karena terkuburnya sebuah impian.

Suatu saat ia tertimpa musibah di mana ia kehilangan uang yang cukup besar. Padahal saat itu ia harus membayarkan tagihan perumahannya kepada pihak bank. Ia bingung, frustasi, dan akhirnya memohon agar ia tidak pernah ada. Di sinilah kemudian ia tersadar. Betapa berharganya kehadiran dirinya bagi orang lain. Dunia ini akan berbeda bila ia tidak berada di dalamnya. Ia pun merasa bersyukur atas apapun yang ia miliki, apapun yang terjadi pada dirinya dan lain sebagainya.

Bersyukur sebagai apapun profesi kita, apapun yang kita miliki, apapun yang disediakan Allah SWT bagi kita. Pasti ada orang yang membutuhkan kita, minimal mereka adalah keluarg kita. Karena bukan terkenalnya orang yang menandakan suksesnya seseorang. Tapi melainkan seberapa besar manfaat seseorang bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia”. Film ini akan menggambarkan hal ini. Seorang manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Meski pada awalnya ia menginginkan kesuksesan dengan mengelilingi dunia dan menjadi terkenal. Ia sadar bahwa Tuhan telah mentakdirkan dirinya untuk melakukan suatu tugas yang tidak akan dibebankan kepada manusia lain.

We are on mission my friend

Wallahu A’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s