“Innocence of Muslims” Yang Untung Siapa?


Siapakah yang untung? Ya yang punya senjata.

Pagi-pagi mendengarkan diskusi di TV One tentang pemutaran film “Innocence of Muslims” yang di belahan dunia lain memunculkan peristiwa berdarah. Seorang duta besar AS beserta tiga staffnya menjadi korban.

Kata Frans Magnis Suseno, “Seharusnya kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Karena hal-hal seperti ini akan banyak terjadi.” Bapak dari Kemenag kemudian menimpali, “Seharusnya energi anak bangsa ini bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, jadi semoga kita tidak terjebak dengan kekerasan.”

Agak kecewa memang dengan komentar beliau-beliau. Aku berharap ada komentar yang lebih membela kepentingan umat Islam. Pengennya ada yang komentar, “Harus ada tindakan hukum itu bagi yang membuat film, yang mendanainya, dan semua orang yang terlibat di dalamnya, karena dengan adanya film ini berpotensi memunculkan kekacauan.” Tapi ternyata tidak ada yang berkomentar seperti itu.

Tapi aku juga kemudian berpikir, kenapa kok bisa muncul film seperti itu. Yang membuat film pasti sudah bisa meramalkan bahwa ini akan menimbulkan kerusuhan. Bila sudah tahu kenapa dilanjutkan? Apakah ada motif ideologis? Dan bukankah sebelumnya telah ada adegan-adegan lain yang sejalan dengan aktivitas ini seperti kartun Nabi Muhammad saw? Dan pertanyaan besarnya adalah siapa yang diuntungkan dengan munculnya kekacauan?

Jadi teringat kisah Aus dan Khazraj di Madinah. Sebelum Islam datang, mereka selalu bersitegang bahkan berperang. Entah apapun alasannya ujung-ujungnya mereka selalu berperang. Dan ketika muncul peperangan di antara mereka siapa yang diuntungkan? Kaum Yahudi.

Kenapa? Karena mereka yang memproduksi senjata. Bila tidak ada yang berperang, maka produk mereka tidak laku. Mereka tidak memiliki kekuatan ekonomi atau finansial. Entah siapa yang benar dan salah mereka tidak mau ambil pusing. Yang penting senjata mereka tetap ada yang beli, dan keuntungan ada di pihak mereka.

Dari peristiwa ratusan tahun ini, kemudian muncul sebuah pertanyaan, ketika terjadi kerusuhan, kenapa bioskop yang menayangkan film ini dekat dengan kedutaan besar AS? Padahal pasti mereka bisa memprediksi akan terjadi kerusuhan dan yang menanggung akibatnya pastilah kedutaaan besar AS.

Lebih lanjut bila kerusuhan ini meluas, prediksiku, akhirnya AS ada alasan untuk menurunkan pasukan di lokasi kerusuhan dengan dalih menyelamatkan warga negara dan fasilitasnya. Dan yang terjadi kembali adalah perang.

Siapa yang rugi akibat perang? Warga sipil tempat terjadi perang? Siapa yang untung bila perang terjadi? Yang dagang senjata. Siapakah itu? Anda bisa menebak sendiri.

Dan sebagaimana di Aus dan Khazraj, sekarang  pun mereka tidak peduli siapa yang benar dan salah. Asalkan mereka dapat keuntungan itu adalah sesuatu yang baik bagi mereka.

Semoga dengan kejadian ini kita bisa membalikkan keadaan. Para pemilik senjata tidak senang dengan kedamaian dan penegakan kebenaran. Maka mari mencari kebenaran dengan banyak mencari ilmu dan tetap menyebarkan kedamaian di lingkungan kita.

Wallahu A’lam

 

 

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s