Teman Yang Sempurna


مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ

Siapa yang mencari saudara yang tidak bercela, ia akantetap tidak mempunyai saudara

Ada sebuah cerita fiksi yang kuharap bisa memberikan sebuah inti hidup yang berharga.

Suatu ketika seorang pemuda di sebuah perkampungan berbicara di depan banyak orang. “Hadirin sekalian, perkenalkan, aku adalah orang yang memiliki hati paling bagus di kota ini. Aku tidak memiliki cacat sedikitpun dalam hatiku.”

“Dan untuk membuktikannya marilah kuperlihatkan hatiku.” Tambah si pemuda tersebut. Seketika ia membuka dadanya dan memperlihatkan hatinya yang sangat indah dengan warna yang merah. Tidak ada cacat sedikitpun, bahkan tidak ada satupun noda yang kotor di sana.

Para penduduk pun mengagumi keindahan hatinya dan mengakui apa yang ia sampaikan.

Namun di antara para penduduk yang hadir, menyeruak seorang kakek. “Oh anak muda, hatimu itu bukan apa-apa. Hatiku inilah yang paling bagus.” Sahut sang kakek sambil bergerak mendekati lokasi pemuda tersebut.

“Apa buktinya hatimu lebih bagus dibanding hatiku?” Sang pemuda tidak terima dengan perkataan kakek itu.

Kemudian kakek itu membuka dadanya dan memperlihatkan hatinya. Semua kaget, bingung dari mana ia bisa mengatakan bahwa itu adalah hati yang paling bagus. “Tidak ada yang bagus. Bahkan hatinya lebih layak menjadi hati yang terjelek.” Pikir para warga pemuda itu.

“Apanya yang bagus Kek? Hatimu sudah tidak beraturan warnanya. Ada yang merah, ada yang merah muda bahkan ada yang pucat. Bentuknya juga tidak beraturan. Ada yang lobang, ada bagian yang hilang, sedangkan ada bagian hati lain yang masuk tapi ukurannya tidak sama. Ada yang lebih besar, ada yang lebih kecil. Bagaimana mungkin hatimu ini bisa lebih bagus dari hatiku yang tanpa cacat ini.”

Sang Kakek kemudian bercerita, “Nak, dalam perjalanan hidupku, aku bergaul dengan banyak orang. Ada orang-orang yang sangat kucintai sehingga kuberikan sebagian hatiku kepadanya. Namun terkadang mereka membalas dengan memberikan hati mereka kepadaku dengan ukuran yang tidak sama.

“Ada yang lebih kecil, ada yang lebih besar dan bahkan ada yang tidak membalas hatiku yang kuberikan. Itulah kenapa kau melihat ada bagian di hatiku yang kosong, atau berlobang. Memang hatiku banyak cacat. Sangat jauh dibandingkan dengan hatimu yang mulus.“

“Tapi bukankah hatiku lebih baik karena aku telah memberikannya kepada banyak orang meski mereka membalas dengan besar yang berbeda? Dibandingkan hatimu yang mulus karena engkau tidak mau memberikannya kepada orang lain. “

Berapa bagian hatimu yang kau berikan kepada orang yang kau sayangi?

Wallahu A’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s