Ujian atau Teguran, Sama Saja


Senin, 1 Oktober 2012, salah seorang rekan kerjaku mengalami kecelakaan. Ia diserempet sebuah mobil. Ia mendapat luka di lutut, nyeri di rusuk kiri, dan bagian depan sepeda motor rusak.

Ia berkata seorang diri, “Apakah ini teguran ya agar aku lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ataukah ini ujian darinya untuk membuktikan imanku?” Ketika aku bertanya apa yang ia lakukan, “Saya sedang menghibur diri saya sendiri Mas Anas.”

Sepanjang jalan hingga ke rumah, aku selalu memikirkan hal tersebut, apakah semua kejadian yang terjadi itu selalu menjadi ujian, teguran atau adzab? Menurutku, kita tidak akan pernah tahu apa tujuan Allah mentakdirkan semua kejadian itu kepada kita.

Bisa jadi menurut kita itu adalah ujian, tapi padahal menurut Allah itu adalah teguran. Bisa jadi menurut kita itu adalah teguran, padahal menurut Allah itu adalah adzab. Dan begitu seterusnya.

Mana yang benar, aku juga tidak tahu.

Namun yang kuyakini tentang semua kejadian yang terjadi pada diri manusia ialah bahwa itu adalah ketentuan dari Allah. Baik yang terjadi berupa kebaikan, kemujuran, keberuntungan, kemenangan dan bentuk kebaikan lainnya, ataupun keburukan, tragedi, musibah dan kehilangan semua adalah ketentuan-Nya.

Semua kejadian itu terjadi pada manusia jenis apapun. Yang beriman, yang kafir, yang munafik, semua pasti mengalami kejadian yang baik dan buruk. Kejadian itu tidak menjadi berbeda bagi orang yang memiliki kadar keimanan yang berbeda. semua mengalami hal yang sama.

Orang yang kafir pasti pernah mengalami kehilangan, mendapatkan kebaikan dari orang lain. Begitu juga dengan orang yang beriman, ia juga pasti pernah mendapatkan musibah, dan keberuntungan. Yang membedakan adalah sikap yang muncul setelah mendapatkan kejadian tersebut.

Bagi orang yang tidak beriman, semua kejadian yang buruk dianggap karena dia mengalami nasib yang sial. Ia menyalahkan dirinya dan akhirnya menghubungkan keburukan tersebut dengan sesuatu yang ia lakukan, atau pertanda kesialan dalam hidupnya. Ia pun menjadi mudah putus asa.

Sebaliknya, kebaikan yang ia peroleh, ia anggap bahwa hal tersebut adalah imbalan atas kebaikan yang telah lakukan sebelumnya. Dengan hal itu ia mudah dihinggapi rasa sombong.

Sebaliknya bagi orang yang beriman, kejadian buruk dan baik itu datangnya adalah dari Allah. Saat kejadian yang buruk itu datang, ia sadar bahwa ini datang atas ijin dari Allah, sebaik apapun ia mencegahnya ketika Allah mengijinkan hal tersebut terjadi tetap akan terjadi. dan karenanya ia tidak mudah putus asa. Ia tetap berusaha yang terbaik.

Dan ketika kebaikan datang kepadanya, ia juga sadar bahwa itu karena ijin Allah juga. Ia bersyukur atas anugerah yang Allah berikan. Dan ia tidak merasa kebaikan tersebut adalah prestasinya semata-mata. Ia menjadi pribadi yang rendah hati dan tetap menggantungkan semuanya kepada Allah.

Memang indah semua perkara bagi orang yang beriman.

Wallahu A’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s