Umar in Palestine


Kesederhanaan malah mendatangkan keagungan

Suatu ketika Umar diminta untuk datang ke Palestina. Kota itu telah berhasil ditaklukkan oleh pasukan muslim pimpinan Amr bin Ash. Para penduduk serta pembesar kota suci Palestina menunggu-nunggu seperti apakah Raja dari umat Islam ini.

Tidak sebagaimana yang dibayangkan, ia hanya datang berdua dengan seorang pembantunya. Mereka membawa satu ekor unta yang dinaiki secara bergantian. Terkadang Umar yang naik dan pembantunya berada di bawah, kadang pembantunya naik dan Umar yang menuntun unta.

Tidak hanya itu, Umar juga ternyata datang dengan baju seadanya. Bahkan ada riwayat yang mengatakan bahwa bajunya ditambal karena ada yang robek dan yang menjahitkan bajunya itu adalah salah seoarang pendeta Nasrani yang berada di luar kota Palestina.

Mendekati gerbang kota Palestina, Amr bin Ash tergopoh-gopoh bersegera menyambut Amirul Mukminin. Melihat pemimpinnya serba sederhana, Amr bin Ash pun mengusulkan kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, para penduduk Palestina dan pembesarnya ingin mengetahui siapa dan bagaimanakah kondisi pemimpin umat Islam?”

Amr bin Ash adalah orang yang perlente. Ia jago diplomasi dan mengetahui betul bahwa di benak para penduduk dan pembesar Palestina terbayang sosok raja diraja yang memiliki baju kebesaran yang megah. Bagaimana tidak Amr bin Ash anak buahnya saja memiliki pakaian yang bagus. “Bagaimana dengan pemimpinnya?” begitu pikir mereka.

Mendapatkan usulan dari Amr bin Ash, bukannya senang, Umar malah marah. Ia mengingatkan Amr, “Wahai Amr kita ini menjadi mulia seperti sekarang ini adalah dengan karunia Allah yakni Islam. Apakah engkau mau mencari kemuliaan dengan cara selainnya?”

Amr terdiam. Ia sadar bahwa ia telah salah berucap. Ia berhadapan dengan orang yang tidak lagi membutuhkan popularitas dan keagungan di mata manusia. Ia sedang berhadapan dengan orang harinya diisi dengan menghisab dirinya apakah ia telah memimpin Muslimin dengan baik.

Teringat kembali sebuah ungkapan jujur yang disampaikan oleh Abu Dzar al Ghifari di hari Umar bin Khattab wafat. “Sungguh kasihan pemimpin yang datang setelahmu wahai Umar, mereka akan senantiasa dibandingkan dengan dirimu sedangkan kualitas mereka jauh darimu?”

Bagaimana kita dibandingkan dengan Umar bin Khattab?

Wallahu A’lam.

6 thoughts on “Umar in Palestine

  1. Allahu Akbar, semoga Allah menghadirkan Umar yang lain ditengah-tengah para pemimpin kita, yg sedang terpuruk di hempas tipu daya dunia

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s