Hijrah, Sun Tzu dan Rohingya


Pengungsi Rohingya di pengungsian yang layak

Di awal-awal pecahnya konflik antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine sehingga memunculkan gelombang pengungsian aku teringat dua hal di atas. Peristiwa Hijrah Nabi dan sebuah penjelasan dari Sun Tzu tentang perbekalan dalam peperangan.

Sudah diketahui oleh banyak orang bahwa gelombang pengungsian tidak hanya menjadi masalah pengungsi, tapi juga bagi mereka yang ketempatan. Muncul beberapa masalah yang sebelumnya tidak terbayangkan. Niat berbuat baik jika tidak disertai perencanaan yang matang malah berbuah petaka.

Kuberikan gambarannya. Pengungsi berjumlah 800 ribu ingin keluar dari Myanmar menuju Bangladesh. Bila satu orang membutuhkan 1 liter air minum perhari, 800 ribu orang berarti membutuhkan 800 ribu liter air minum. Bila satu mobil tanki berisi 10.000 liter. Maka satu hari dibutuhkan 80 mobil tanki untuk menyuplai air minum saja.

Bagaimana dengan air untuk keperluan lain seperti mandi, buang air, cuci baju, dan memasak? Berapa tanki air yang harus disiapkan? Bagaimana pula dengan jalan menuju tempat pengungsian yang harus dilalui lebih dari 80 mobil tangki setiap hari? Pastilah jalan tersebut mengalami kerusakan.

Bagaimana dengan sumber makanan? Ketika sebuah tempat pengungsian muncul secara otomatis akan diikuti oleh kebutuhan bahan makanan. Dan sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi, begitu banyak permintaan maka harga akan menjadi mahal.

Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Meski telah berganti harga menjadi lebih mahal, kebutuhannya tetap ada. Akhirnya yang terjadi adalah sumber daya di daerah sekitar pengungsian sedikit demi sedikit terkuras habis. Jalan-jalan yang terlalu sering dilewati pun menjadi rusak. Sumber daya yang ada di daerah sekitar pengungsian menjadi gersang. Terlalu banyak disedot karena kebutuhan pengungsi.

Hal ini sudah dikatakan oleh Sun Tzu berabad-abad sebelumnya. Ketika pasukan terlalu lama berhenti di suatu daerah, kebutuhan di daerah tersebut akan meningkat. Ketika kebutuhan meningkat, harga naik. Namun meski harga telah naik kebutuhan tidak berkurang. Akibatnya daerah tersebut akhirnya tidak lagi memiliki sumberdaya karena tersedot untuk memenuhi kebutuhan pasukan.

Akhirnya biaya untuk mempertahankan daerah pengungsian meningkat. Karena pemerintah juga harus merehabilitasi sarana, prasarana, dan sumberdaya di daerah tersebut. Betapa besar nilai yang harus dibayar untuk menolong para pengungsi Myanmar? Dan logislah bila Bangladesh akhirnya menolak para pengungsi, harganya bagi keberlangsungan negara bisa terjadi terlalu besar.

Apa hubungannya dengan Hijrah Nabi? Sangat kuat hubungannya. Aku baru sadar betapa jenius keputusan Muhammad saw dalam peristiwa hijrah.

Peristiwa hijrah juga sebenarnya adalah peristiwa pengungsian. Di mana umat Islam Mekkah harus meninggalkan kota kelahirannya menuju Madinah. Tidak ada harta atau sumber daya yang mereka bawa. Bila semua sahabat telah datang di Madinah dan tidak ada keputusan terkait pengungsian ini banyak permasalahan akan muncul. Namun sebuah keputusan yang sangat jenius, sekali lagi sangat jenius dibuat oleh Rasulullah. Keputusan apakah itu?

Keputusan untuk mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Alih-alih membuat sebuah tempat pengungsian bagi warga Mekkah yang hijrah, Rasul malah mempersaudarakan mereka dengan penduduk lokal.

Bila dengan membuat tempat pengungsian sumberdaya daerah sekitar tersedot, dengan mempersaudarakan dengan penduduk lokal, tidak ada sumberdaya yang tereksploitasi. Karena mereka yang terbiasa membutuhkan minum 5 liter dalam satu keluarga, harus membagi 5 liter tersebut dengan seorang anggota keluarga baru dalam beberapa waktu. Sumberdaya air terselamatkan.

Begitu juga dengan sumberdaya yang lain. Makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya. Tidak perlu kembali membangun gedung tersendiri, minyak untuk penerangan baru, pakaian baru, semua bisa berbagi dengan keputusan Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.

Aku terheran-heran dengan keputusan jenius Rasulullah ini. Beliau yang berkenalan dengan Sun Tzu saja belum pernah, tetapi keputusannya dalam mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sudah memberikan solusi atas permasalahan Sun Tzu dalam mengirim pasukan.

Berikut gambar penjelasannya agar lebih mudah

Wallahu A’lam

5 thoughts on “Hijrah, Sun Tzu dan Rohingya

    • ini mungkin harus bilang Wow, Aku gak bisa menghilangkan ketakjubanku An, Kok bisa ya? Aku tidak pernah terpikir sebelumnya

  1. Maka dalam hal ini peran pemimpin yang begitu memiliki pesona sangat diperlukan.
    Keputusan bijak tidak bisa didapatkan dari 800ribu kepala..
    Namun hanya bisa dilakukan oleh seseorang..

    • Memang syarat agar proses tersebut bisa berjalan adalah dengan adanya pemimpin yang memang diterima oleh kedua belah pihak. Kekuatan politis yang kuat juga menjadi sesuatu yang signifikan dalam pengambilan keputusan

  2. yap! Betul-betul-betul!.
    Terbersit ide, Bisa gak Indonesia menerapkan cara rasulullah itu untuk pengungsi Rohingya?. Kita sebarkan saja ke kampung-kampung. Biar membaur, larut dan tidak bermasalah lagi.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s