Barang Siapa Menanam, Dia akan Mengetam


Man Yazro’ Yahshud

Yang ingin memanen, harus menanam dulu

Hal ini tentu saja terjadi. Bukankah sudah banyak pepatah Indonesia mengatakan hal yang sama. “Rajin pangkal pandai, Hemat pangkal kaya”, dua pepatah yang sudah sering kita dengar sejak kecil. Namun terkadang dalam kehidupan pepatah tersebut tidak terwujud.

Ada orang yang rajin dalam kehidupannya namun ia tidak kunjung pandai. Ia sering “dikadali” oleh orang lain. Ada juga yang telah berhemat namun tidak kaya. Ia menabung, namun ia ternyata tidak menikmati harta yang ia tabung. Ia tidak kunjung kaya. Apakah pepatah tersebut tidak berlaku lagi?

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian lain di kehidupan sekarang ini yang seakan-akan menunjukkan kebalikan dari ketiga pepatah di atas.

Menurutku, yang salah bukanlah pepatahnya. Namun memaknainya. Ketika rajin pangkal pandai, orang seringkali memahami bila ia belajar di sekolah dengan rajin, maka ia akan berhasil menjadi pandai. Namun sebenarnya pelajaran sekolah tidak banyak menentukan keberhasilan seseorang.

Justru sebaliknya rajin dalam belajar kehidupan akan membuat dia pandai dalam menentukan arah hidup. Dan dari sanalah keberhasilan, kepandaian, dan kesuksesan dimulai.

Begitu juga dengan hemat pangkal kaya. Saat ini tidak cukup dengan berhemat dalam artian menabung orang bisa menjadi kaya. Untuk menjadi kaya seseorang harus memulai dari belajar untuk memenuhi kriteria sehingga ia layak disebut sebagai orang kaya, dan itu tidak cukup dengan hemat dalam artian menabung saja.

Lebih dari itu, hemat yang menuju sebuah kekayaan dimulai dengan menjalani hidup dengan sederhana, simple dan tidak neko-neko. Dan dari sanalah ia kemudian harus belajar untuk meningkatkan kekayaannya. Ia harus mulai belajar mengatur keuangan, berinvestasi, dan seterusnya.

Barang siapa menanam ia akan mengetam (mamanen hasilnya). Seringkali kita melihat diri kita telah berusaha maksimal, tapi kok ternyata juga belum berhasil. Bersabarlah, bisa jadi kita ini masih dalam proses menanam, dan belum waktunya mengetam.

Karena dalam proses menanam itu perlu menyiram, memupuk, menyiangi gulma, dan menjaga buah yang muncul. Baru setelah itu kita bisa memanen. Dan bisa jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyiram, memupuk, menyiangi gulma dan menjaga buah itu berlangsung seumur hidup kita.

Dan giliran memanen adalah ketika muncul generasi-generasi sesudah kita. Anak dan cucu kita yang memanen. Tapi mereka sebelumnya juga harus kita warisi keahlian menanam agar mereka juga bisa mewariskan menanam kepada generasi berikutnya dan tidak hanya mengambil hasil dari usaha orang tuanya.

Selain itu, dalam perspektif Islam, memanen itu tidak hanya dalam waktu berada di dunia. Namun setelah semuanya berakhir dan dibangkitkan di alam akhirat barulah waktunya memanen hasil usaha kita yang sebenarnya.

Maka jangan kau kecewa dan putus asa sahabat, karena yang menanam pasti akan memanen hasilnya. Pasti akan menikmati hasilnya, tinggal menunggu waktu saja. Maka bersabarlah.

Wallahu A’lam

Sumber gambar: www.flickr.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s