Tumuk-Tumuk?


Apa itu tumuk-tumuk? Ini adalah pengucapan istriku untuk kata sumuk (gerah; panas). Beberapa hari ini memang udara di Surabaya tumuk eh maaf salah sumuk. Katanya ini sih pertanda hujan. Tapi benarkah itu?

Aku pun menelusuri fenomena itu dari dua buku. Yang pertama adalah Medical Physiology dan yang kedua adalah buku tentang Weather And Climate. Aku ingin mencari tahu penjelasan atas fenomena gerah yang kini melanda Surabaya terutama di rumahku yang tidak ber AC.

Hasilnya?

Tubuh manusia. Semua dimulai dari sini. Tubuh kita memiliki sebuah mekanisme yang luar biasa untuk menjaga suhu tetap normal. Karena suhu yang terlalu dingin akan menurunkan tingkat metabolisme dan akan membuat tubuh tidak mendapatkan suplai kebutuhannya.

Sementara bila suhu terlalu panas maka tubuh akan cepat mengalami dehindrasi dan hal ini akan berbahaya bagi tubuh manusia terutama bagi bayi.

Berkeringat adalah mekanisme awal menurunkan suhu tubuh. Namun bukan proses berkeringat yang menyebabkan suhu tubuh turun. Malah penguapan keringatlah yang mampu menurunkan suhu tubuh. Maka ketika kita berkeringat kemudian keringat itu menguap, kulit akan merasakan kesegaran.

Maka untuk menurunkan suhu tubuh, tubuh kita harus mengeluarkan air melalui penguapan keringat. Namun mengapa gerah dan kondisi sumuk terjadi? Mengapa ketika kita telah berkeringat ternyata tidak ada kesegaran yang terjadi? Ini sebagian disebabkan oleh kelembaban udara.

Ya betul, kelembaban udara berpengaruh. Kelembaban udara artinya ukuran kemampuan udara untuk menampung uap air. Semakin besar kelembaban udara berarti semakin besar uap air yang ditampung oleh udara. Ingat uap air berpengaruh untuk proses terjadinya hujan.

Dan ketika kelembaban udara sudah maksimal, atau dengan kata lain ia telah mendapati kemampuan maksimalnya menampung uap air terpenuhi, ia tidak lagi sanggup menerima uap air. Dan kelembaban udara yang maksimal ini menunjukkan bahwa udara telah penuh dengan uap air. Hal ini juga menjadi salah satu pertanda bahwa hujan akan turun.

Dan karena kelembaban udara yang tinggi inilah keringat kita tidak lagi sanggup menguap. Karena udara di sekitar kita tidak lagi sanggup menampung uap air dari keringat kita. Terjadilah fenomena tumuk-tumuk.

Bagi rumah yang memiliki AC, sumuk mungkin tidak terlalu terasa. Karena AC memang sengaja menangkap uap air di udara. Itulah mengapa AC kita lihat selalu meneteskan air. Itu adalah uap air di udara yang ia saring.

Apakah kipas angin membantu? Bila dilihat teorinya, kipas angin bisa membantu karena ia menggantikan udara. Namun bila memang udara di sekitarnya juga telah penuh dengan uap air maka efeknya tidak sebesar dengan AC.

Karena belum mampu beli AC, ya dibesarkan saja kipas anginnya. Semoga Allah memberikan hujan yang bermanfaat segera dengan merata di bumi Surabaya.

Karena aku bukan ahli cuaca dan bukan juga lulusan terbaik masalah fisiologi manusia. Bila penjelasanku salah mohon disempurnakan dan diingatkan.

Wallahu A’lam

Sumber gambar: http://www.flickr.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s