Mas, Saya Mau jadi Muslim yang Biasa-Biasa Saja Boleh Nggak?


Kaget aku mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya pertanyaan yang cukup logis. Setelah dia mendengar dan memperhatikan contoh-contoh keislaman yang kuat dan tegar. Umar, Abu Bakar, belum lagi Rasulullah saw. Ia terlihat berpikir keras apakah dia akan kuat seperti mereka?

Aku bisa menangkap kekhawatirannya. Ia tidak ingin mengalami kesusahan. Bagi dia, sekarang ini hidup itu sudah susah. Ditambah lagi cerita dariku, sepertinya Islam itu terlalu mulia dan terlalu besar pengorbanannya bagi orang yang seperti dirinya. Sehingga muncul pertanyaan, Bolehkah aku menjadi muslim yang biasa-biasa saja?

“Aku masih ingin berleha-leha sedikit. Aku masih ingin menikmati masa muda. Aku masih ingin bersenda gurau, aku masih ingin berpacaran dan bersenang-senang” Itulah yang pesan yang kudapatkan. Dan bagi semua anak muda itu adalah sesuatu yang logis dan lumrah. Bila mereka meninggalkannya, kerugian yang mereka rasa.

Mereka juga tidak meminta menjadi orang yang luar biasa

Yang kuketahui dari berbagai kisah Rasulullah beserta para sahabat yang beraneka ragam, mereka tetap adalah manusia biasa. Mereka juga merasakan rasa sakit, takut, kecewa, sedih, gembira dan kadang-kadang marah tak tertahan juga. Mereka tidak meminta untuk menjadi orang yang luar biasa.

Lalu dari mana pengorbanan, keberanian, rela memikul tanggung jawab, dan kesedarhanaan itu berasal? Semua itu berasal dari cinta. Karena mereka sudah terlalu cinta dengan Rabb-nya, mereka tidak lagi berpikir nalar untuk hidup mereka semata. Meraka juga harus berpikir bagaimana membuktikan cinta mereka.

Bukankah logika cinta sudah cukup menjadi bukti

Ketika pasangan muda-mudi sedang jatuh cinta, mereka juga adalah manusia yang biasa. Ada kelemahan dan kelebihan. Tidak berbeda dari para sahabat nabi yang juga manusia.

Yang menarik adalah bagaimana ketika pasangan muda-mudi sedang jatuh cinta, pengorbanan, keberanian menantang bahaya, kerelaan memikul tanggung jawab dan bersedia untuk berhemat asal sang kekasih gembira membuat dirinya pun gembira.

Hanya saja yang berbeda bila saat ini sebagian besar manusia menjadikan pasangan, kekasih pujaan hati sebagai pusat cinta, Rasulullah dan sahabatnya menjadikan Allah sebagai pusat kecintaan mereka.

Dan dari mana rasa cinta itu? Dari tahu, dari sadar, dan dari yakin bahwa hanya Dialah saja yang layak dicintai. Ketika kita sudah tahu, sadar, dan yakin akan hal itu, kita pun tanpa kita sadari akan melakukan pembuktian cinta yang dulu kita anggap berat. Dan kita tetap masih bergembira dengan pembuktian itu.

Maka tetaplah kau belajar tentang-Nya. Janganlah kau berpikir dulu pengorbanan itu! Janganlah dulu kau menganggap berat tanggung jawab itu! Janganlah kau melihat ribet, berat dan susahnya agama ini!

Cari tahu dulu tentang Dia Yang serba Maha. Lambat laun hatimu akan terisi cinta kepada-Nya. Dan ketika itu telah bersemayam di dada, semua yang kau anggap berat akan menjadi mudah dan indah. Tetaplah untuk belajar tentang cinta, rahmat dan karunia-Nya adikku.

Wallahu A’lam

6 thoughts on “Mas, Saya Mau jadi Muslim yang Biasa-Biasa Saja Boleh Nggak?

  1. Namun sepertinya sat ini bukan menjangkit pada pemuda aja mas, kadang pas ngobrol ada yang nyeletuk. kalau guwe pengen jadi muslim yang biasa2 aja, tar kalau ternyata surga neraka kagak ada gak nyesel2 amat du dunia. Seperti itu mas, merinding seh dengernya. But that is the fact

  2. walau sudah tahu mana yang benar dan baik, seringkali masih susah menjalankannya. mungkin ketaqwaan memang nggak mudah, tapi hadiahnya tak terkira besarnya kelak. Insya Allah. hehe

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s