Tidak Perlu Kau Jauh-Jauh Membantu Palestina, Kita Masih Punya Masalah


Ijinkan aku marah sahabat. Aku ingin meluapkan rasa marahku. Marah kepada diriku sendiri, dan juga marah kepada orang yang melakukan hal ini setelah aku.

Hal ini bermula ketika berita serangan ke Gaza oleh Israel muncul. Saat itu mungkin Allah sedang mengujiku. Banyak pekerjaan yang menumpuk belum terselesaikan. “Eeeh ternyata ada berita Gaza.” Respon yang pertama kali muncul adalah, “Ya Allah jangan lagi! Ini pasti ada tugas lagi!”

Kenapa? Karena aku yang berada di lembaga sosial, pastilah momen seperti itu adalah momen penggalangan dana. Padahal pekerjaan yang lain masih menumpuk. Bukannya aku tidak sedih, sedih pasti kurasakan, tapi tetap saja ada perasaan berat menjalani hari.

Aku sudah memiliki tugas lain, kini aku juga harus menambah beban pikiran saudaraku yang ada di Palestina. Aku juga harus memikirkan penggalangan dana, aku harus mengkoordinasikan masalah simpang siur berita di dunia maya. Rasanya berat banget.

Dan lebih menyakitkan lagi ketika aku memunculkan berita-berita Palestina ada respon-respon negatif yang muncul. Ada yang membalasnya dengan postingan bahwa yang bersalah itu adalah Palestina. Ada pula yang berkomentar, “Kenapa harus jauh-jauh ke Palestina? Di Indonesia juga masih banyak orang yang membutuhkan bantuan.”

Kalau aku adalah orang Surabaya mungkin aku sudah misuh-misuh (mengumpat). Tapi aku tidak berani. Aku akhirnya hanya bisa memendam kemarahan. Aku yang sudah bersusah payah mencari berita dari berbagai sumber, merangkumnya dan memberikannya ternyata ada komentar yang membuatku down.

Tapi ternyata setelah beberapa lama aku merenung, aku pun menyadari beberapa hal.

Laki-laki

Orang yang meng-counter atau memberikan komentar agar tidak jauh-jauh membantu Palestina biasanya laki-laki. Karena memang laki-laki itu otaknya terbagi menjadi bagian-bagian tertentu (kompartemen). Ketika ia fokus di satu masalah, ia tidak bisa merangkap menyelesaikan masalah yang lain.

Maka contohnya adalah diriku sendiri. Ketika aku masih memiliki beberapa masalah yang harus kuselesaikan tapi kemudian muncul berita Gaza, respon otomatisku adalah keberatan karena aku kini harus membagi konsentrasiku. Dan hal itu berat bagiku.

Masalahnya?

Banyak yang beralasan agar kita tidak jauh-jauh membantu Palestina adalah karena masih banyak masalah yang ada di negara kita sendiri. Mulai dari korupsi, tawuran, ketimpangan sosial dan lain sebagainya. Namun aku melihat ada yang aneh.

Bila hal-hal tersebut menjadi masalah yang harus didahulukan, aku merasa ada yang mengganjal. Pikirku, “Bila memang itu yang menjadi alasan, apa yang telah kau lakukan selama ini untuk menyelesaikan masalah-masalah itu?” Maka aku pun membuka blog mereka, membaca update status mereka.

Dan kemarahanku menghebat karena alasan mereka hanyalah alasan bodoh. Memang laki-laki itu tidak pintar beralasan. Ternyata update status dan isi blog mereka hanyalah bagaimana cerita tentang dirinya, masalahnya, makanan apa yang telah dimakannya, dan itu saja. Tidak ada yang lain.

Tidak ada masalah kemiskinan, tidak ada juga masalah korupsi yang mereka kemukakan di awal. Yang ada hanya dirinya seorang.

Maka kesimpulanku adalah bahwa secara tidak langsung yang ingin disampaikan adalah, “Buat apa membantu mereka di Palestina? bantu saja aku, masalahku sangat banyak”. Namun karena malu mengungkapkannya, kemudian mereka membuat alasan kemiskinan, korupsi dan alasan-alasan lain yang ternyata tidak memenuhi otak mereka atau bahkan tidak terpikirkan sama sekali.

Berbeda

Mereka yang benar-benar memikirkan untuk memberikan kebaikan dalam hidup mereka update status dan posting blognya tidak tentang diri mereka. Mereka senantiasa mengajak untuk berbuat kebaikan.

Dan ketika datang masalah Gaza, mereka tidak menolak, meski mereka tidak ingin turut serta secara penuh, karena mereka sudah berkomitmen untuk menyelesaikan sebuah masalah kehidupan entah itu kemiskinan, pendidikan, karakter dan lain sebagainya.

Dan yang terpenting mereka tidak merendahkan usaha orang lain untuk membantu saudaranya. Karena memang masalah kehidupan ini terlalu banyak untuk bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Maka bila fokus di masalah pendidikan, biarlah dia fokus di masalah pendidikan. Bila fokus di masalah keterpurukan ekonomi, biarlah dia fokus di masalah ekonomi. Tak perlu merendahkan dengan alasan-alasan yang mengada-ada.

Gaza dan Masalah Kita

Aku memiliki pandangan yang berbeda soal Gaza dan pembandingannya dengan masalah kita di Indonesia ini. Masalah di Indonesia adalah masalah negara merdeka. Di negara manapun, bila ia telah merdeka meski sekelas Jepang, AS, Inggris, dan lainnya, kemiskinan, korupsi, pertikaian etnis, juga masih menjadi masalah.

Artinya mereka dengan sumberdaya yang besar pun masih belum mampu mewujudkan kondisi ideal bagi rakyatnya. Dengan kata lain, kalaupun kita tidak membantu Palestina dan memfokuskan diri kita membantu rakyat, apakah semua masalah tersebut akan terselesaikan? Tidak ada jaminan.

Namun dengan membantu Palestina, meskipun hanya dengan dukungan status facebook atau twitter, minimal warga Gaza, Palestina tahu bahwa mereka juga didukung oleh banyak manusia di belahan dunia lain. Dan itu akan memberikan mereka semangat untuk bertahan menghadapi penjajahan yang mereka alami.

Kesimpulannya, bantulah sesama manusia semampu kita, jangan merendahkan usaha orang lain untuk memberi kebaikan. Sebuah catatan bagi diriku sendiri yang masih belum bisa menjadi satu tubuh dengan muslim yang lain. Astaghfirullah. Maafkan aku sahabat bila ada yang tersinggung.

Wallahu A’lam

6 thoughts on “Tidak Perlu Kau Jauh-Jauh Membantu Palestina, Kita Masih Punya Masalah

  1. Saya juga menemukan beberapa yang seperti itu pak. Kemudian saya cukil dari pesan disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau menjawab pertanyaan tentang apa sikap dan kewajiban kita terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza – Palestina
    “Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezhaliman tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh kezhaliman seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di Palestina) walaupun kezhaliman yang lebih ringan dari itu”.

    • kadang ketika ditimpali dengan dalil tidak mempan, makanya saya memilih jalan lain dengan logika. Kalau dengan logika tidak bisa. Minimal kita sudah saling mengingatkan

  2. Pingback: Tidak Perlu Kau Jauh-Jauh Membantu Palestina, Kita Masih Punya Masalah « 9ethuk

  3. orang papua saja belum benar2 merdeka, mereka terjajah oleh bangsanya sendiri, kenapa harus mati-matian mmbela yang jauh kalo di negeri sendiri saja kita acuh tak acuh..

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s