Ternyata Aku Masih Belum Belajar Soal Pentingnya Waktu


Aku harus mengakuinya. Memang kesalahankulah yang menyebabkan ini semua. Sesuatu yang begitu krusial harus kukorbankan demi rasa kasihan. Sesuatu yang sebenarnya sudah kuketahui bahwa hal ini tidak mendidik.

Ceritanya adalah saat aku bertanggung jawab dalam pengadaan spanduk sebuah ajakan membantu korban bencana. Saat itu aku sebenarnya sudah sangat sadar bahwa momen bencana adalah momen mendesak. Ia tidak boleh diharapkan tapi begitu telah terjadi, waktu adalah sesuatu yang krusial.

Seketika waktu (golden period) itu telah usai, maka spanduk ajakan sudah menjadi basi dan tidak lagi dibutuhkan. Namun lagi-lagi aku masih belum bisa mengeluarkan sisi halusku. Sepertinya sulit sekali untuk memberikan keputusan yang adil.

Aku tahu bahwa ia adalah temanku, ia memiliki link dengan usaha percetakan. Menjadi broker adalah sesuatu yang tidak tabu asalkan dengan syarat pengerjaannya harus juga profesional.

Aku sebenarnya memiliki beberapa pilihan. Ada tiga tempat termasuk milik temanku itu. Dua lainnya adalah rekomendasi teman yang lain.

Aku juga sadar bahwa dia memiliki track record yang kurang meyakinkan. Ada waktu saat dia gagal dalam mengerjakan order yang diberikan. Namun sepertinya itu sudah lama. Kalau tidak salah lima bulan sebelumnya. Aku berharap dia sudah belajar. Itulah harapanku.

Namun begitu aku sudah memutuskan menggunakan jasanya, aku seolah sudah yakin aku telah membuat kesalahan. Kenapa aku berkata seperti itu? Karena ketika kutanya apa timbal balik yang bisa diberikan bila ternyata pengerjaannya meleset dari waktu yang seharusnya?

Ia menjawab dengan mudah, “Ya tolong ditambahkan waktunya Pak, sehari saja?” Aku geleng-geleng. “Lah kok menjawabnya seperti itu? Pekerjaan telat, tidak ada kompensasi malah minta sehari lagi waktu pengerjaannya”.

Yang lebih parah lagi aku malah menakutinya, “Kalau nanti tidak berhasil tepat waktu, jangan harap ada order lagi”. Sesuatu yang kusesali. “Bagaimana mungkin dia akan berhasil, komitmen pengerjaan tepat waktu saja masih belum bisa dipastikan?” Sesalku.

Kini aku tinggal berdoa, “Semoga apa yang kukhawatirkan tidak terjadi. Walaupun dalam hati kecilku aku tahu bahwa aku melakukan sebuah kesalahan. Aku mengorbankan sesuatu yang penting demi rasa kasihan yang sebenarnya juga tidak mendidik.” Maafkan aku kawan, ampuni aku Ya Allah.

Biarlah tulisan ini menjadi pengingatku agar aku tidak mengulangi kesalahan ini di masa yang akan datang.

Wallahu A’lam

7 thoughts on “Ternyata Aku Masih Belum Belajar Soal Pentingnya Waktu

  1. Yang jelas sudah kita kasih kesempatan. Kalau nggak mau berubah ya berarti dia nggak mau maju. Banyak yang ninggalin nanti..

    😀

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s