Bila Aku Pria Yang Feminin atau Wanita yang Maskulin


Man vs Woman

Man vs Woman (Photo credit: boynumber1)

Masih ingat dengan test maskulin dan feminin? Bagaimana dengan skormu sahabat? Ketika aku menjawab semua pertanyaannya, dan kuhitung ternyata ada 13 jawaban B dan 17 jawaban C.

Artinya bila dijumlah maka nilaiku adalah -20. Hasilku sebenarnya bias. Karena buku “Why Men” itu sudah pernah kubaca habis. Akibatnya aku bisa menempatkan diri saat berhadapan dengan pertanyaan maskulin-feminin.

Kesimpulan dalam masalah feminin dan maskulin ini sebenarnya aku agak risih juga. Karena ini nanti akan berhubungan dengan transgender. Akan ada pria dengan sisi feminin yang cukup tinggi begitu juga dengan sebaliknya.

Dan aku sadar hal itu bukanlah sesuatu yang salah. Karena aku yakin itu semua (jenis kelamin, karakter, dan hal lain yang tidak bisa kita atur) sudah ditentukan oleh Allah. Maka tinggal usaha kita untuk menjadi yang terbaik.

Pria yang feminin akan mengalami kesulitan untuk berada di dunia lelaki. Karena ia akan dianggap sebagai laki-laki yang tidak gentle. Biasanya di usia sekolah, orang yang seperti ini akan sering menjadi korban bullying.

Begitu juga dengan sebaliknya. Wanita yang maskulin juga akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari teman-wanita yang lain.

Mungkin kalian ingat kisah Anjeli-nya Kuch Kuch Hota Hai. Sebuah kepribadian wanita yang macho sekalipun sebenarnya tetap memiliki sisi perempuan. Hanya saja memang terkadang susah bagi mereka untuk menampilkannya.

Namun tenang sahabat. Semakin lama kalian belajar tentang masalah perbedaan antara pria dan wanita ini, kalian akan semakin bisa bertoleransi dan menemukan keunikan diri sendiri.

Tidak semua feminin dalam diri seorang laki-laki itu jelek. Begitu juga tidak semua maskulin dalam diri seorang wanita itu buruk. Semuanya hanya butuh tempat yang sesuai untuk didudukkan sesuai dengan porsinya.

Wallahu A’lam

9 thoughts on “Bila Aku Pria Yang Feminin atau Wanita yang Maskulin

  1. Kata mbak Eli risman kadang laki-laki memang mempunyai kecenderungan feminim karena secara genetis Y-nya lebih banyak daripada laki-laki normal. Tapi kalo menurut saya, semua kembali pada pendidikan dalam keluarga. Tidak selalu laki-laki yang membantu ibu didapur bisa menjadi bencong. Banyak chef laki-laki tetep macho. Termasuk chef Juna. Stttt, itu kata temenku. Aku ga’ punya TV😀

    • Kalo di bukunya memang ada orang-orang yang memang ditakdirkan sebagai laki-laki tapi lebih lemah gemulai. Dan di jaman Rasulullah juga ada. Tapi tetap saja, ia adalah laki-laki normal. Dan tetap berkodrat sebagai lelaki.

      • Saya sich begini Bu, ketika seseorang telah mendapatkan gen dengan hormon testosteron yang besar (Maskulin) bila ia adalah seorang wanita, maka alur pikirnya, karakternya memang agak macho. begitu juga dengan laki-laki yang secara genetiknya, memiliki hormon estrogen yang besar, hal itu juga akan mempengaruhi persyarafan dalam otaknya, mempengaruhi tingkat berpikirnya.
        Maka, memang pendidikan keluarga penting, tapi bukan berarti dengan pendidikan keluarga, anak perempuan yang maskulin harus dipaksa jadi feminin. dan anak laki-laki yang feminin dipaksa menjadi maskulin. Tapi pendidikan keluarga harus membekali bahwa apapun yang ada pada diri mereka adalah anugerah Allah.
        Dan itulah nikmat sekaligus ujian bagi mereka.
        Maaf ya Bu agak panjang…

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s