Jujur dan Dusta Memang Saling Membutuhkan


Lies

Tiap hari kita membaca kebohongan?

Tergelitik juga ketika membaca komentar Pak Lambang Sarib soal kejujuran. Beliau mengatakan bahwa kejujuran adalah sesuatu yang akan tetap dibutuhkan hingga kapanpun. Bagaikan mata uang yang akan tetap selalu berharga di segala macam kehidupan dan kebutuhan.

Bahkan orang yang tidak jujur, kriminal juga butuh seorang yang jujur. Tapi benarkah itu? Kurasa tidak. Aku kemudian berpikir dan menerawang jauh.

Tiba-tiba aku mengingat sebuah kisah tentang seseoarang yang jujur. Orang ini tidak pernah sekalipun berdusta. Karena kejujurannya ia bahkan menjadi tempat bagi banyak orang untuk menitipkan barang. Meski dalam kehidupan sehari-hari mereka memusuhinya.

Komentar Pak Lambang Sarib pun terjawab. Ya, bahkan seorang penjahat, kriminal ahli keburukan juga membutuhkan seseorang yang jujur. Tapi apakah orang yang jujur membutuhkan orang yang jahat? Kembali aku menerawang.

Karena sebenarnya seorang yang jujur bila ia tahu tempat bekerjanya beroperasi dengan cara yang tidak jujur, mustahil ia betah kerja di sana. Namun mengapa orang yang jujur terkadang tetap bertahan di tempat yang penuh ujian kebohongan dan dusta? Apa sebenarnya yang ia butuhkan.

Bila harta dan dunia tidak lagi menjadi ketertarikannya, lalu apa lagi?

Kukira tidak ada kebutuhan lain bagi seorang yang jujur untuk bergaul dengan orang-orang yang jahat dan keji melainkan ia memiliki sebuah misi besar yang mengalahkan kebutuhannya akan harta dan dunia.

Sekali lagi kisah orang yang jujur di atas juga menjawabnya. Alasan mengapa ia tetap bertahan untuk melayani mereka yang tak bersahabat juga adalah sebuah alasan yang besar. Karena ia ingin mengajak mereka ke arah jujur dan benar. Ia ingin mengajak mereka ke arah kebaikan. Ia adalah Muhammad Rasulullah.

Tidak pernah orang mengira bahwa ia yang dimusuhi, ternyata ia menjadi tempat terpercaya untuk mengamankan harta para musuhnya sendiri. Pendusta butuh orang jujur untuk membela dari kejahatan. Sementara orang jujur butuh pendusta untuk diajak menuju kebenaran dan kebaikan.

Saling membutuhkan tapi beda arah dan tujuan. Bagaimana menurutmu?

Wallahu A’lam

9 thoughts on “Jujur dan Dusta Memang Saling Membutuhkan

  1. Di dunia nyata, terlebih lagi di dunia bisnis dan perdagangan. Teman teman seprofesi yang menurut saya “kurang jujur dan kurang amanah dalam berbisnis”, seringkali mengeluh, “mbang, sulit banget yah mencari karyawan yang jujur”. Jika kata itu terucap, hanya senyuman yang aku berikan.

    Nah loh…..

      • saya yakin pak, dia akan semakin bertanya-tanya karena ketidakjujuran jarang yang bisa match dengan ketidakjujuran

      • hehehe……………..

        Saya punya sahabat kerja di daerah Sulawesi, selama saya mengenalnya di sekolah, dia anak yang jujur. Beberapa bulan yang lalu saya masih sempat bertemu di daerah menteng, untuk sekedar makan siang bersama. Dari ucapan, sorot mata dan tingkah lakunya saya masih percaya bahwa ia sejujur seperti dahulu.

        Sekitar 2 bulan yang lalu, ia SMS saya dan mengatakan, “boss ku ditangkap KPK”. Ah….. ternyata HM itu boss nya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s