Bakat itu Seperti Jalan Tol Bebas Hambatan


Masih tentang bakat. Sebagaimana saat ini kita ketahui bersama bahwa di saat seorang manusia lahir, ia memiliki jumlah sel otak yang melebihi jumlah planet penghuni tata surya galaksi Bima Sakti. Milyaran jumlahnya.

Selama hidupnya, jumlah sel otak relatif sama, begitu ada yang mati akan ada sel baru yang menggantikannya. Namun pikiran seorang manusia bukan berada di dalam sel otak melainkan di koneksi atau hubungan antar sel otak.

Koneksi antar satu sel otak dengan yang lainnya memiliki jumlah hingga 15.000 (lima belas ribu) koneksi pada saat usianya mencapai tiga tahun. Bayangkan! Tiap satu otak berhubungan dengan 15.000 sel otak yang lain. Dan ini berlaku bagi milyaran sel otak yang ia miliki.

Tapi jumlah ini terlalu banyak. Maka sepuluh tahun berikutnya ia akan memperkecil koneksinya. Semakin sering koneksi antar sel otak ia gunakan maka semakin kuat koneksinya.

Ibarat jalan, maka yang memiliki koneksi kuat akan menjadi jalan tol atau bebas hambatan. Sementara yang semakin jarang terkoneksi akan semakin mengecil menjadi jalan setapak bahkan jalan itu bisa menghilang.

Maka ketika seorang manusia mencapai usia remaja, jumlah koneksinya hanya separuh dari jumlah ketika usianya tiga tahun. Yang sering digunakan menjadi jalan besar bebas hambatan, yang jarang digunakan menjadi jalan setapak hingga kemudian makin menghilang.

Maka ketika seseorang memiliki koneksi yang berhubungan dengan empati seperti jalan tol bebas hambatan, akan terasa mudah baginya untuk  merasakan emosi dari orang yang berada di sekitarnya.

Sebaliknya bila koneksi empati seseorang menghilang jalurnya, bisa jadi ia tidak bisa merasakan emosi orang lain. Hal ini bukan berarti sesuatu yang buruk, hanya saja ia tidak bisa merasakan emosi orang lain.

Maka seseorang yang telah dewasa bisa saja melatih kemampuan empatinya, namun ia tidak bisa memiliki koneksi empati seperti jalan tol bebas hambatan. Inilah pemahaman baruku tentang bakat atau talent. Ia adalah cara berpikir, cara bertindak, cara hidup kita.

Dan sebagaimana yang disampakan oleh bu Ikakoentjoro, anak bisa dilatih untuk memiliki talent itu. Tapi bisa jadi bakat itu memang given sehingga tugas orang tua untuk menemukan talent dan membimbing anak-anaknya menggunakan talent yang telah ia miliki seperti ungkapan Pak Lambangsarib.

Wallahu A’lam

A 61 bei Dannstadt

Bakat itu bagai jalan bebas hambatan, cepat sampainya

 

4 thoughts on “Bakat itu Seperti Jalan Tol Bebas Hambatan

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s