Jendral Harus Banyak Berdiam Diri saat Berhadapan dengan Raja


The Yudhoyonos in a family outing, from left: ...

Tidak ada yang salah dengan melanggengkan trah. Yang salah bila tidak mengakui tapi melakukannya

Berat, itulah kata yang pertama kali terpikir saat Pak Lambang Sarib memintaku mengulas masalah Anas Urbaningrum VS Susilo Bambang Yudhoyono.

Bukan karena namanya sama-sama Anas, tapi lebih karena dalam politik itu lebih abu-abu dan lebih keruh daripada masalah perang sebagaimana prinsip-prinsip Sun Tzu.

Sun Tzu sendiri bukan orang yang tidak tahu politik. Tapi ia telah melewati posisi politik yang abu-abu. Ia telah menjadi politik hitam dan putih, karena ia diminta untuk menjadi jendral oleh sang Raja.

Aku melihat Anas Urbaningrum itu seperti Jendral yang diangkat seorang Raja karena kondisi. Kondisi peraturan dan image kepatutan sebuah partai. Mengapa bisa seperti itu?

Untuk melanggengkan pemerintahan sesuai dengan trah SBY sebenarnya tidak terlalu sulit. Bila saja SBY bersedia meng’clear’kan tujuannya dan berterus terang kepada forum internal partainya bahwa ia ingin melanggengkan trah SBY sebagai pemegang kekuasaan.

Sah-sah saja sebenarnya. Namun karena image politik yang harus demokratis, ia pun harus membuat sistem, yang sistem itu akhirnya memunculkan seorang jendral di luar forum internalnya, di luar orang-orang yang faham tentang maksud dan keinginannya.

Jendral baru itu bernama Anas Urbaningrum. Seorang intelektual muda yang dikenal sebagai jendral dengan moralitas tinggi. Seorang mantan ketua PB HMI. Dan bukankah moralitas tinggi itu harga yang mahal?

Tapi sekarang sang Raja khawatir, si jendral baru akan membawa partainya kepada kehancuran. Moralitas yang tinggi nyatanya dilanggar sendiri oleh anak buah si jendral baru. Anak buah jendral sendiri yang menyatakan bahwa jendral yang harus tanggung jawab masalah moralitas ini.

Kini sang raja harus membuat cara dan sistem baru agar partainya tetap eksis, keinginannya melanggengkan trah pun bisa terus berlanjut. Ia harus menyiapkan aturan agar sang jendral tidak lagi bisa berkutik dan menyerah pada image moralitas yang sudah tercoreng.

Kini jendral baru itu harus banyak berpikir, seberapa jauh lagi ia harus bertarung? Bisakah ia bertarung melawan rajanya sendiri? Dengan apa ia harus bertarung? Siapa yang bisa mendukungnya untuk bertarung? Ia diam, banyak memikirkan hal-hal ini dalam kepalanya.

8 thoughts on “Jendral Harus Banyak Berdiam Diri saat Berhadapan dengan Raja

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s