Ilmu Di Waktu Kecil Itu Laksana Ukiran Di Atas Batu


Children for Charity

Al-‘ilmu fi ash-shighoori kan naqsyi ala al-hajari “ilmu di waktu kecil itu laksana ukiran di atas batu”

Mahfudzot yang satu ini sudah pasti banyak yang kenal dan banyak kita jumpai sehari-hari. Maksud dari ungkapan itu adalah masuknya ilmu atau belajar saat kita kecil itu seperti mengukir di atas batu.

Ada yang memaknai bahwa mengajarkan ilmu kepada anak itu sulit. Sehingga dulu banyak orang tua harus berusaha keras (sering menegur dan mengingatkan) agar anaknya mau belajar. Karena mengukir di atas batu itu berat, memang begitulah mendidik anak.

Tapi menurutku itu tidak cocok lagi. Kenapa? Karena sekarang kita tahu bahwa daya serap seseorang yang paling besar itu adalah di waktu mereka kecil.

Sebagaimana kalimatnya, ‘ilmu di waktu kecil itu laksana ukiran di atas batu.’ Artinya ilmu itu akan tetap ada dan terpatri pada diri anak sebagaiman ukiran itu akan tetap ada pada batu selama bertahun-tahun.

Maka bila ilmu di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu, sekarang yang harus dijawab adalah seahli apakah kita mengukir? Pertanyaan ini sangat penting dijawab oleh para orang tua dan calon orang tua.

Seorang ahli ukir batu, tentunya tidak terlalu susah untuk mengukir batu. Dengan tenaga yang tidak terlalu besar, dengan peralatan seadanya sekalipun ia bisa menyulap batu menjadi ukiran yang bernilai seni tinggi.

Tapi bila ia bukan seorang ahli ukir batu, dengan peralatan secanggih apapun tanpa keahlian, ia hanya bisa membuat pecahan-pecahan batu, bukan ukiran.

Maka apakah mengukir itu batu itu sulit? Iya, bagi orang yang bukan ahli mengukir batu. Tapi bagi ahlinya, itu adalah sesuatu yang mudah.

Dan ketahuilah anak-anak itu mendapatkan ilmu paling berharga dalam hidupnya dengan mencontoh sekelilingnya. Maka berilah dia contoh untuk bekal hidup dengan sebaik-baiknya. Apakah masih sulit?

3 thoughts on “Ilmu Di Waktu Kecil Itu Laksana Ukiran Di Atas Batu

  1. Tapi bila ia bukan seorang ahli ukir batu, dengan peralatan secanggih apapun tanpa keahlian, ia hanya bisa membuat pecahan-pecahan batu, bukan ukiran.<– suka kalimat ini.

    alat canggih hanya akan alat saja, keahlian dibutuhkan dan kalau saya suka menambahkan lagi: kedisiplinan. banyak yang ahli dan alat canggih sudah ditangan. tapi gak disiplin dalam mengasah gergajinya itu…

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s