Stephen Covey juga Mengingatkan tentang “Dzikrul Maut”


Withering

kita juga akan mengalami hal yang sama

Habit kedua setelah menjadi proaktif dalam 7 Habits adalah “Begin with The End in Mind” Mulailah dengan membayangkan akhir dalam pikiranmu. Masih bingung? Berikut ini gambaran yang paling mengena menurutku.

Kawan, di suatu siang kau berbaring. Kemudian, satu persatu orang datang, yang pertama adalah istrimu. Ia berbicara dan banyak orang lain yang mendengarkannya. Ia berbicara tentangmu kepada mereka semua. Bagaimana kau di matanya, bagaimana perlakuanmu dan lain sebagainya.

Kau tersadar, bahwa ternyata ada peristiwa-peristiwa yang tidak kau inginkan orang lain tahu pun diceritakan olehnya. Kau ingin mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Tapi kau entah kenapa tidak bisa menghentikan ucapannya. Kau hanya bisa mendengarkan ia bercerita.

Giliran berikutnya adalah anakmu. Ia juga berbicara kepada orang-orang itu? Ia mengakui bahwa kau adalah ayah terbaik baginya, tapi kadang-kadang orang yang terbaik pun melakukan kesalahan. Ia ternyata memberitahukan kesalahan-kesalahanmu kepada orang-orang itu.

Kau malu. Kau ingin menghentikannya. Tapi entah kenapa kau tidak bisa melakukannya. Kau hanya bisa mendengar dan menyaksikan anakmu mengatakan yang selama ini dipendamnya. Kau tidak bisa membantahnya.

Mungkinkah hal tersebut terjadi? Sangat mungkin. Kapankah hal ini terjadi? Saat kau tidak lagi berada di dunia ini alias telah meninggal. Semua orang bisa mengatakan tentang dirimu apa saja yang mereka inginkan dan kau tak bisa mencegahnya. Semua itu tergantung dengan perilakumu terhadap mereka.

Terkadang banyak orang mengejar kesuksesan yang salah. Sehingga ia malah menyakiti yang sebenarnya paling penting bagi dirinya. Bayangkanlah ketika kau meninggal, bayangkanlah bagaimana akhir hidupmu.

Ingin dikenal sebagai apa dirimu? Sebagai suami penuh kasih sayang, ataukah kekasih yang tempramental? Sebagai ayah yang baik atau sebagai ayah yang pemarah? Sebagai seorang anak yang berbakti atau sebagai anak yang tak peduli dengan orang tuanya?

Dan bila itu adalah versi Covey, bagaimana dengan versi Islam? Lebih hebat lagi. Bila tayangan kelakuanmu semenjak kecil hingga meninggal diperlihatkan, kau tidak bisa mengelak atau mengatakan tidak. Karena semua sudah terekam oleh Allah.

Kau dan Tuhanmu melihat dengan nyata dan jelas apapun yang kau lakukan, yang kini mungkin kau tidak menyadari. Bahwa kau selama ini berada dalam CCTV-Nya. Ia melihat seluruh gerak-gerik hidupmu. Dan di akhirat kelak, tayangan itu akan kembali di putar untuk menjadi bukti amalmu di dunia.

Astaghfirullah. Aku memohon ampun kepadamu ya Allah atas segala kejahatan dan maksiat yang kulakukan. Hanya ampunan dan kasih sayang-Mu yang mampu menyelamatkan aku. Ampuni aku ya Allah atas segala dosaku baik yang kusadari atau tak kusadari.

Sesungguhnya orang yang paling pandai adalah orang yang paling banyak mengingat kematian.

Wallahu a’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s