Marahmu Saja Yang Tertangkap Saat Evaluasi Bila Tak Hati-Hati


English: Angry

English: Angry (Photo credit: Wikipedia)

Maaf kawan beberapa lama ini aku absen karena banyaknya kesibukan di kantor. Maklumlah, bekerja di lembaga sosial sekaligus lembaga amil zakat seperti aku ini, Ramadhan adalah salah satu waktu yang ditunggu-tunggu.

Kali ini aku ingin memberikan kisah tentang seseorang yang gagal memberikan pesan perbaikan. Bukan karena apa yang ia sampaikan gagal diterima karena tak berbobot, bahkan mungkin terlalu berbobot. Tapi tetap saja pesan itu tidak tersampaikan.

Saat itu rapat evaluasi sebuah even besar digelar di sebuah pagi. Semua anggota berkumpul. Semua memberikan masukan dan evaluasi terkait even yang baru saja usai dan akan dilanjutkan dengan even selanjutnya.

Rata-rata semua evaluasi yang diberikan datar-datar saja. Mengucapkan selamat atas kinerja berbagai pihak dan ada beberapa hal yang perlu perbaikan. Hingga datang waktu bagi The Young Evaluator beraksi.

Ia hanya menyampaikan sesuatu yang singkat, namun semuanya didukung atas data-data yang akurat. Semua yang ia sampaikan juga diikuti anggukan oleh sebagian besar orang. Tapi ada yang tidak mengangguk.

Yang tidak mengangguk adalah sang ketua panitia even. Ia merasa tertohok dengan berbagai macam evaluasi yang ia terima dari Young Evaluator. Ia merasa semua kerja yang ia lakukan tidak banyak berarti bagi lembaga.

Ditambah lagi nada penyampaiannya yang berapi-api seakan-akan marah atau bagai seorang hakim yang telah memberikan vonis bersalah kepada seorang terdakwa. Ia pun tersulut emosi. Namun ia enggan mengungkapkannya. Ia hanya menyimpannya dalam hati.

Kini, daripada menghadapi evaluasi dari The Young Evaluator, ia memilih pergi, lebih baik menjauh daripada tersakiti. Ia tidak berubah, ia hanya tersakiti, evaluasi yang berbobot, benar dan berarti itu lebih terasa sakitnya daripada kebenarannya.

Kawan, nasihat yang baik itu tidak memunculkan emosi. Karena bila disampaikan dengan emosi (marah), maka yang akan ditangkap adalah emosinya, bukan nasihatnya. Belajar memberikan nasihat tanpa menggurui, memberi evaluasi tanpa memarahi. Sepertinya ini juga sebuah inti dalam hidup. Wallahu a’lam.

4 thoughts on “Marahmu Saja Yang Tertangkap Saat Evaluasi Bila Tak Hati-Hati

  1. emosi menutup kebijakan kita sebagai manusia seutuhnya. tapi emosi membuat kita menjadi manusia apa adanya. 😀 *ini saya komen apa ya mas?*

  2. bagus tulisanmu, kadang terlalu bersemangat untuk memperbaiki dampaknya ndak baik ya….
    tapi orang yang dewasa memperhatikan apa yang disampaikan, kebenaran memang kadang pait dirasa..

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s