Pikirkanlah sebelum Kau Memutuskan


A carpenter and his mate prepare a door for in...

fakkir qobla an ta’zima

Mahfudzot ini sepertinya pas sekali dengan habit nomor dua dalam “7 habits” -nya Stephen Covey. Keduanya sama-sama menganjurkan agar kau membuat perencanaan, membayangkan, sebelum memutuskan sesuatu.

Bila tidak berhati-hati, pekerjaan memutuskan akan membuat masa depanmu tidak jelas. Kau hanya akan berakhir dalam masa depan orang lain. Ibarat seorang aktor, kau hanya akan menjadi figuran dalam sebuah film.

Lebih mudahnya adalah seperti membuat rumah. Orang yang telah memahami apa tujuan rumahnya akan lebih menghemat biaya, tenaga dan waktu daripada yang tidak tahu untuk apa rumahnya.

Karena rumah yang digunakan sekaligus untuk usaha jelas sangat berbeda dengan rumah yang digunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Perabotnya, bentuk dan warnanya sudah jelas berbeda.

Bila hanya sekedar membuat rumah, maka bisa dipastikan nanti akan banyak berubah di perjalanannya. Tambah ini, rombak itu, robohkan dinding ini, tambah lagi itu, dan lain sebagainya.

Biaya semakin besar, tenaga lebih banyak, dan waktu lebih lama tapi tidak pernah usai karena memang tidak pernah ada tujuan yang jelas, untuk apa ia membangun rumah. Untuk siapa dia membangun rumah tersebut?

Ketika kita memutuskan sesuatu, pastilah akan ada konsekuensi logis yang mengikutinya. Dan karena ada konsekuensi itu, maka kita harus berpikir apakah konsekuensi yang mengikutinya akan sanggup kita tanggung atau tidak.

Oleh sebab itu pikirkanlah masak-masak sebelum kau memutuskan. Apalagi memutuskan tentang keputusan-keputusan penting dalam hidupmu. Jangan biarkan ia berjalan apa adanya seperti air yang mengalir.

Sebagaimana sebuah ilmu yang senantiasa dipakai oleh tukang kayu, “measure twice, cut once”. Ukur dua kali, dan potonglah satu kali.

Keputusan itu ketika sudah dibuat, pasti akan muncul konsekuensi yang mengikutinya. Maka ukurlah, timbanglah. Dan ketika kau sudah yakin dengan ukuran yang harus kau potong, janganlah ragu-ragu.

Orang yang dengan tegas memotong dengan sekali potong haruslah memiliki ukuran dan timbangan yang berulang kali, karena ketika sudah terpotong, butuh energi yang lebih besar lagi untuk menyambungnya bila terjadi kesalahan.

Maka pikirkanlah dengan benar, dengan masak, sebelum kau memutuskan kawan. Wallahu a’lam

One thought on “Pikirkanlah sebelum Kau Memutuskan

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s