Warung Proletar Agak Borjuis


Warung Tegal (Warteg)

di kawasan Unair kami tidak mengenal warteg, yang ada adalah warung proletar

Dulu di jaman aku kuliah, tersebutlah sebuah tempat makan yang bernama “wapro” alias warung proletar. Itu sebenarnya juga bukan nama aslinya. Aku sendiri tidak tahu apa nama asli warung itu.

Yang jelas kaum proletar seperti tukang becak, buruh bangunan dan mahasiswa kere macam aku adalah pengunjung tetap. Nasi yang meskipun kadang mengandung kerikil, dengan kebebasan mengambil porsi, adalah alasan utama kami datang ke “wapro”.

Kini hampir dua belas tahun saat pertama kali aku datang ke Surabaya, perubahan terjadi. Perubahan itu juga berefek ke semua warung makan di sekitar kampus.

Dulu hampir sebagian besar mahasiswa juga adalah kaum proletar alias miskin kota. Warung makan didominasi harga murah porsi besar, dan favoritnya tentu saja si wapro, warung proletar.

Kini hampir bisa dipastikan sebagian besar mahasiswa sudah masuk kaum borjuis. Dan karena itu kebutuhan mereka akan tempat makan tidak lagi sekedar menghilangkan rasa lapar. Mereka butuh tempat bersosialisasi atau bahasa gaulnya “hang out”.

Dan sepertinya wapro yang dulunya untuk kaum proletar juga mau tidak mau harus beradaptasi dengan kondisi ini. Mereka kini tidak hanya menyediakan makanan, tapi juga kondisi yang memungkinkan untuk hang out.

Meski kuantitas nasi tidak berkurang, menu harus diperbaiki. Yang dulunya hanya dengan lauk telor atau ikan pindang, kini wapro pun punya lauk ayam goreng, rempelo ati dan lain sebagainya.

Di Surabaya, warung tegal mungkin tidak seterkenal warung tempe penyet. Dan penggemar warung pemuas rasa lapar juga makin berkurang di kampus-kampus Surabaya. Apa daya? Memang perubahan itu mesti terjadi. Begitu juga dengan warung proletar yang kini menjadi warung proletar agak borjuis. Wallahu a’lam

3 thoughts on “Warung Proletar Agak Borjuis

  1. perubahan mas…
    baru saja kepikiran menulis soal adaptasi. dah keduluan nih.

    tapi memang jaman pasti berubah. termasuk kondisi yang mas sebutkan. sudah berubah. itu kenyataannya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s