Kemenanganmu Ada dalam Pikiran Lawanmu


Day 243

Menanamkan kekerdilan dalam pikiran lawan, itulah kemenangan yang gemilang

Setelah kupikir-pikir, aku baru tersadar bahwa konsep ini sebenarnya sudah berumur ribuan tahun. Dan berulang kali dari jaman dulu hingga sekarang, cara mendapatkan kemenangan ini juga sudah dipraktekkan.

Kemenangan itu bukan berasal dari bagaimana kau menguatkan dirimu. Kemenangan itu berasal dari bagaimana kau melemahkan musuh atau lawanmu. Meskipun tidak bisa dipungkiri, bahwa salah satu cara untuk melemahkan musuhmu adalah dengan menunjukkan kekuatan dirimu.

Ini juga yang terjadi di Mesir sekarang ini, dan ini juga yang terjadi di Indonesia ketika dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa. Kunci kemenangan adalah menanamkan pikiran kepada musuh, bahwa mereka itu lemah dan tidak berdaya.

Dan nyatanya konsep sederhana ini juga telah ditunjukkan oleh kisah-kisah Nabi sepanjang sejarah manusia. Salah satu yang terhebat adalah kisah yang ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman as.

Bila Sun Tzu mengatakan bahwa kemenangan yang gemilang adalah dengan menguasai wilayah tanpa menghancurkannya, maka Sulaiman as. telah membuktikannya.

Tanpa ada peperangan ia berhasil menaklukkan, membuat pikiran Balqis terpaksa mengakui bahwa kerajaan Sulaiman ini adalah kerajaan yang tidak ada tandingannya. Barulah setelah itu Balqis menyerahkan kekuasaan tertinggi kerajaannya kepada Sulaiman.

Sekarang ini pun, konsep melemahkan pikiran musuh ini tersaji di mana-mana. Mesir menjadi contoh yang terbaru. Dengan pembantaian dan tanpa ada dukungan media dan dunia, hal ini bisa melemahkan para muslim di sana, bahwa mereka ini memang lemah.

Dan pertunjukan atau selebrasi juga menjadi salah satu ajang untuk melemahkan lawan. Bila hedonisme (pandangan hidup adalah untuk bersenang-senang saja) adalah lawan dari kebaikan dan semangat spiritual, maka kita bisa melihat cara hedonisme melemahkan kebaikan.

Berbagai macam show, pertunjukan, selebrasi atau perayaan menjadi ajang menunjukkan bahwa hedonisme adalah yang terkuat. Sementara, kebaikan, semangat spiritual akhirat sepi pengunjung, kalaupun ramai hanya ada golongan sesepuh yang ajalnya semakin mendekat.

Dalam dunia sepak bola hal ini dikenal dengan “psy war” atau perang psikologis, dengan segala macam bentuknya tentu saja. Tapi semua intinya sama, menanamkan pikiran kepada lawan bahwa mereka lemah, menanamkan kepada lawan bahwa yang mereka hadapi memiliki kekuatan yang maha dahsyat yang tak tertandingi.

Dan bila itu sudah berhasil, langkah berikutnya sangatlah mudah. Karena sebaik apapun kemampuan, kekuatan dan skill lawan, bila pikiran mereka telah menjadi lemah, keunggulan yang lainnya menjadi tidak terlalu berarti.

Tapi sejarah juga merekam, melemahkan musuh juga terkadang menemukan sandungannya. Dilemahkan dengan cara apapun, dan dalam waktu yang lama berapapun, toh akhirnya Indonesia bisa merdeka.

Diintimidasi, diancam dengan cara apapun, Nabi Muhammad dengan Islam telah menguasai jazirah Arab. Dilemahkan dengan cara apapun, perlawanan Nelson Mandela terhadap Apartheid akhirnya memenangkan pertempuran.

Begitu juga dengan berbagai macam gerakan kebangkitan yang lain di wilayah dan waktu yang berbeda. Ada kalanya “psy war” menjadi bumerang. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Jawabannya adalah kebenaran. Sebaik apapun caramu melemahkan lawan, bila mereka memiliki kebenaran, kau sendiri yang akan terjungkal. Secanggih apapun muslihatmu, bila kau ingin menang sendiri, kau sebentar lagi akan menjadi pecundang.

Sudah menjadi sunnatullah atau dalam bahasa lain hukum alam, bahwa manusia membutuhkan manusia lain. Maka saling menghormati, saling mengingatkan, saling bekerja sama, terus mencari kebenaran dan kebaikan sudah menjadi kodrat manusia yang tak terbantahkan.

Maka barang siapa yang melawan hukum universal ini, sebaik apapun tipu muslihat yang dimiliki ia dipastikan akan terjungkal terguling. Dan meskipun dia berkuasa kembali, sekali lagi ia akan dijungkalkan lagi.

Yang belum banyak tersaji ialah bagaimana kekuatan kebaikan memiliki pendukung sehingga ia menjadi “psy war” yang melemahkan  bagi kejahatan atau kemaksiatan.

Aku tak bisa membayangkan bila pertujukan, show dan selebrasi kebaikan dan kebenaran menjadi “psy war” yang mampu menandingi kekuatan hedonisme? Bukankah itu SUPER? Bagaimana menurutmu kawan?

3 thoughts on “Kemenanganmu Ada dalam Pikiran Lawanmu

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s