Manakah yang Lebih Beresiko? Wirausaha, atau Menjadi Pegawai?


Road Risky

Bagi yang melewatinya tanpa persiapan, jelas beresiko, tapi dengan persiapan matang, jalan itu bisa dilalui

Berwirausaha itu penuh dengan resiko. Sebaliknya menjadi pegawai apalagi menjadi pegawai negeri sipil itu sangat kecil resikonya. Jadi tidak heran banyak orang tua yang menyarankan kepada anak-anaknya untuk menjadi pegawai.

Resiko, sedemikian menyeramkannya resiko itu sehingga banyak orang yang enggan membicarakannya. Tapi sebuah pelajaran berharga dari Robert Kiyosaki tentang resiko semoga bisa memberikan definisi yang lain.

Aku tidak akan membahas penulisan yang benar itu resiko atau risiko. Kedua-duanya sudah sama-sama kau ketahui maknanya. Resiko itu diartikan dengan mudah sebagai kemungkinan untuk mengalami hasil buruk di masa yang akan datang.

Padahal resiko itu juga bisa berarti resiko yang baik. Tapi sebagian besar kita, termasuk aku sendiri juga lebih sering memahamiĀ  resiko itu sebagai sebuah hal yang buruk.

Bila seorang ibu rumah tangga berniat membetulkan peralatan listrik seorang diri, apakah menurutmu itu beresiko? Bagaimana bila yang membetulkan itu suaminya? Apakah resikonya berkurang?

Ditambah lagi bila yang membetulkannya adalah seorang pegawai perbaikan dari perusahaan listrik. Apakah resikonya berkurang? Jawabannya pasti sangat jauh berkurang resikonya.

Bila seorang anak SMP yang belum memiliki SIM, kemudian diberikan mobil sedan BMW apakah itu beresiko? Bagaimana bila mobil itu diberikan kepada seorang sopir angkot? Bagaimana pula bila diberikan kepada sopir yang terbiasa menggunakan BMW? Apakah resikonya berkurang?

Jawabannya pasti sangat berkurang. Padahal hal-hal yang dilakukan atau pekerjaannya sama. Sama-sama membetulkan listrik tapi resikonya sangat berbeda. Jadi resiko itu bukan ditentukan jenis pekerjaan, atau apa yang dilakukan.

Yang menentukan resiko itu adalah pelakunya. Sudahkah ia memiliki kemampuan untuk meminimalisir resiko-resiko yang akan ia hadapi? Sudahkah ia memiliki keilmuan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaannya?

Menjadi wiraswasta di usia muda itu tidak lebih beresiko dengan menjadi pegawai, bila memang ia telah memiliki bekal entrepreneur di masa muda.

Ketika salah seorang teman berpikir untuk usaha di jual beli ternak untuk kurban, ia berpikir bahwa modal yang besar adalah hal yang beresiko. Tapi modal itu tidak menimbulkan resiko. Kurangnya pengalaman dalam masalah jual beli dan hal ternak, itulah yang menimbulkan resiko yang besar.

Resiko itu bisa dikurangi meski tidak bisa dihilangkan sama sekali. Dengan memupuk kemampuan, keahlian, dan keilmuan dalam pekerjaan yang kita geluti akan membuat resiko akan semakin kecil. Dan bukankah resiko yang kecil itu yang diinginkan oleh pelanggan? Bagaimana menurutmu kawan?

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s