Ternyata Sosok Mulia itu Adalah Seorang Budak


Cane milling machines-10

ternyata sosok mulia itu adalah seorang hamba sahaya

Bila mendengar nama Luqman Al-Hakim, bagaimanakah imajinasimu membayangkannya kawan? Apakah kau membayangkannya sebagaimana dulu aku membayangkannya?

Semenjak kecil, nama Luqman Al-Hakim selalu dikenalkan sebagai sosok yang sangat bijaksana. Sosok yang bijaksana itu membuatku membayangkan seseorang yang tampan, dengan baju kebesaran. Meskipun dia tidak kaya, tetapi bayanganku mengatakan pastilah ia bukan termasuk orang yang miskin.

Karena bayanganku untuk menjadi orang yang terpelajar dan bijak pasti dibutuhkan ilmu yang banyak, dan siapakah yang mampu mendapatkan sedemikian banyak ilmu dan kebijaksanaan bila tanpa dukungan harta?

Lengkaplah sudah bayanganku dengan sosok anak-anak yang tampan dan penurut kepada sang ayah, Luqman Al-Hakim. Tapi kenyataannya sungguh sangat berbeda dengan fakta yang ada?

Aku terkaget-kaget ketika aku membaca tafsir Ibnu Katsir yang menjelaskan sosok Luqman al-Hakim. Ternyata ia adalah seorang budak. Bukan bangsawan, bukan orang biasa, tapi seorang budak atau hamba sahaya.

Selain seorang budak, ia ternyata juga berkulit hitam, berbibir tebal, dan berhidung pendek. Sungguh sebuah karakter fisik yang menurut bayanganku tidak menunjukkan sosok yang bijaksana.

Tapi memang demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia. Apa yang dipikirkan oleh manusia kadang tidak mampu menembus ciptaan Allah Tuhan Alam Semesta.

Semua bayanganku ternyata salah total. Sosok yang bijaksana itu ternyata adalah seorang budak berkulit hitam. Tapi ia dianugerahi Allah kebijaksanaan, pengetahuan yang luar biasa.

Suatu ketika, majikan dari Luqman al-Hakim meminta agar disembelihkan domba. Ia meminta agar Luqman membawakannya dua bagian tubuh terbaik dari domba. Luqman ternyata membawakan lidah dan hati domba.

Di kesempatan yang lain, sang majikan kembali meminta menyembelih seekor domba. Tapi kali ini ia meminta agar Luqman dibawakan dua bagian yang terburuk. Tapi yang dibawakan tetap bagian  lidah dan hati.

Sang majikan bertanya. “Hai Luqman, dulu aku pernah meminta  kau bawakan bagian terbaik domba, kau membawakan lidah dan hati. Kini setelah aku memintamu mengambil bagian terburuk, kau juga memberikan lidah dan hati. Apa maksudmu?

Luqman menjawab, “Tidak ada yang lebih baik dari pada dua bagian ini bila ia memang adalah sesuatu yang baik. Dan tidak ada yang lebih buruk dari dua bagian ini bila ia adalah sesuatu yang buruk.”

Subhaanallah, sungguh Allah telah memberikan contoh yang terbaik. “Don’t judge the book by its cover”. Ungkapan ini sepertinya cocok dengan kisah Luqman al Hakim. Bagaimana menurutmu kawan?

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s