“Ah Males Ah, Perang Kok Nggak Fair”


Rome: Total War

Rome: Total War (Photo credit: Miyaoka Hitchcock)

Bayangkan kau adalah seorang jendral. Kau membawa 1000 pasukan yang kesemuanya adalah infanteri bersenjatakan tombak panjang. Pergerakanmu lambat. Kau tidak tahu seberapa besar kekuatan musuhmu.

Lalu entah datang dari mana sebuah pasukan berkekuatan 100 penunggang kuda dengan bersenjatakan panah datang. Mereka membombardir pasukanmu dengan ribuan anak panah yang mereka bawa.

Pasukanmu hanya bisa mampu bertahan di balik perisai berat yang mereka persiapkan. Selangkah demi selangkah pasukanmu maju untuk menyerang. Tapi begitu kau hampir bisa menyentuh mereka, pasukan musuh kembali menjauh.

Tidak satu atau dua langkah, mereka dalam waktu singkat bisa menjauh 200 langkah dan panahnya tetap bisa mengenai pasukanmu. Apakah yang bisa kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan.

Apakah kau akan mengatakan, “Ah males ah, perang kok nggak fair!” Kau ngambek karena pasukan musuh tidak berlaku gentle. Mereka tidak berani berhadapan satu lawan satu. Mereka pengecut.

Kau marah, tapi memang itulah perang. Kalau ingin fair, ikut pertandingan saja, yang ada wasit dan penontonnya, bahkan tiketnya pun ada. Jangan sekali-kali masuk dalam medan perang.

Begitu juga aku memahami kondisi orang-orang PKS baik di dalamnya kader atau simpatisan termasuk aku sendiri. Kami kecewa, marah, kenapa perang ini tidak dimainkan dengan fair dan gentle.

Kenapa harus menggunakan KPK? Kenapa harus menggunakan media? Kenapa harus menggunakan berita-berita bohong? Ini namanya tidak fair. Dan begitulah kemudian yang terjadi. Ngambek.

Padahal kalau mau fair, bisa jadi Indonesia ini tidak akan menang, karena perang gerilya itu tidak fair. Sebagaimana penjajah eropa juga tidak fair dengan segala perlengkapan lengkapnya.

Tapi itulah perang. Semua pasukan dan semua jendral yang ingin masuk dalam peperangan harus siap untuk menghadapi ketidakadilan dan ketiadaan aturan. Meskipun ada aturan yang mengatur kita, aturan itu toh tidak mengatur musuh kita.

Dan itulah yang harus kita persiapkan betul-betul. Bahwa perang itu identik dengan ketidakadilan. So, nikmati saja ketidakadilan yang kau rasakan sambil belajar taktik, dan strategi apa saja yang dilakukan musuhmu yang kau sebut dengan ketidakadilan itu.

Sehingga nanti di waktu-waktu yang berbeda bila mereka menggunakan strategi yang sama, kau tidak gampang kaget dan panik. Dan bisa membalas serangan mereka dengan cemerlang.

Wallahu a’lam

4 thoughts on ““Ah Males Ah, Perang Kok Nggak Fair”

  1. Kalau perang fair mungkin disebut permainan mas. Tapi dalam permainan aja lawan sering menyiapkan kejutan kan. Hehehehe.
    Memang dalam politik, segala aspek jadi alat untuk kepentingan mas.

    • Untuk sabarnya saya yakin tetap sabar. Tapi untuk kesadaran bahwa tidak fair-nya kondisi peperangan itu yang perlu ditanamkan… jadi gak gampang ngambek

      • Makanya saya tambahkan kalimat di atas dengan: “cara pro aktif”, artinya sabar untuk menikmati suasana perang, gak gampang mutungan, sehingga dapat jalan untuk melemahkan lawan.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s