Bersungguh-Sungguh atau Bermalas-Malasan Sama-Sama bisa Membawa Penyesalan


sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

“Bersungguh-sungguhlah, jangan bermalas-malasan, dan jangan lengah, karena penyesalan itu menimpa orang-orang yang malas.” Ini adalah sebuah mahfudzot yang menekankan betapa pentingnya kesungguhan.

Tapi berbeda dengan man jadda wajada yang lebih melihat sisi positifnya, mahfudzot ini menekankan dari sisi negatifnya. Mahfudzot ini melihat akibat buruk dari sebuah kemalasan.

Malas dalam Bahasa Arab ditulis dengan “kasala”. Dan nyatanya hal ini memiliki empat arti yang berurutan, yakni terpotong-potongnya sebuah pekerjaan karena lemas, kemudian beratnya terasa berlipat, muncul perasaan tidak terlalu pentingnya pekerjaan dan akhirnya tidak muncul kemudahan dalam melakukan.

Jadi malas itu memiliki dimensi kualitasnya yang berkurang karena kemampuan fisik, beratnya bertambah, tidak adanya sesuatu yang penting dan tidak muncul kemudahan dalam pengerjaannya.

Dalam hidup, terkadang menjadi selalu rajin dan giat dalam semua aktivitas bukanlah sesuatu yang mudah. Dan menurutku tidak semua dalam aktivitas ini harus kau paksakan untuk giat dan rajin.

Karena tangan kita hanya dua, kepala kita satu, kaki kita dua, maka aktivitas yang bisa kita lakukan dibatasi oleh kemampuan manusiawi yang kita miliki. Kita tidak bisa melakukan semuanya. Untuk itu harus ada prioritas.

Dan pilihlah prioritasmu dengan baik. Setelah kau pilih, senantiasalah memeriksa prioritasmu sudahkah ia kau berikan porsi yang sesuai? Atau benarkah itu prioritas yang tepat? Karena bila kau salah dalam menentukan prioritas, ujungnya adalah penyesalan.

Kerena pilihan-pilihan prioritas kita saat ini menjadi sebuah kenyataan yang harus kita terima di masa yang akan datang.

Untuk hal-hal yang tidak harus diprioritaskan, janganlah diprioritaskan. Untuk hal-hal yang memang membutuhkan prioritas, berilah ia prioritas. Dan setelah itu kau harus menggiatkan semua usahamu pada prioritas yang memberikan hasil terbaik bagimu.

Bila tidak, maka aku khawatir meski kau giat, tapi kau giat pada prioritas yang salah. Secepat apapun larimu, bila kau ingin ke Jakarta tapi mengambil arah menuju Bali tidak akan pernah sampai ke Jakarta. Wallahu a’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s