Tinggalkanlah Keburukanmu, Keburukan itu akan Meninggalkanmu


sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Untuk meninggalkan keburukan pada diri sendiri, paling tidak ada tiga proses yang harus kau jalani. Mendefinisikan-melihat konteks, mendapatkan dukungan, dan barulah meninggalkan keburukan.

Keburukan yang kita lakukan seringkali kita anggap baik. Dan orang lain yang menganggapnya baik, bisa jadi kita menganggapnya buruk. Itulah persepsi manusia. Dan semua manusia tidak bisa lari dari persepsinya.

Untuk itu, sebelum memutuskan untuk meninggalkan keburukan, kau harus memastikan apakah memang benar yang kau lakukan adalah sebuah keburukan? Standar apa yang kau jadikan patokan antara baik dan buruk.

Bagiku masalah definisi ini akan selesai dengan Islam. Dalam Islam ada aturan-aturan yang tegas terkait apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang haram dan apa yang boleh bahkan harus dilakukan.

Selain itu kau juga bisa mencari tahu keburukan yang ingin kau rubah. Kau bisa membaca berbagai literatur. Ini untuk memastikan kepada dirimu sendiri bahwa yang kau lakukan memang adalah sebuah keburukan.

Masih dalam proses yang sama adalah melihat konteks di mana keburukan tersebut terjadi. Suatu perbuatan yang dilakukan pada kejadian tertentu bisa dianggap sebagai sebuah keburukan, tapi pada kondisi lain tidak..

Bersikap keras kepala ketika mendiskusikan kemajuan atau permasalahan organisasi dengan argumentasi yang logis tentu adalah sebuah kebaikan. Tapi bersikap keras kepala ketika menentukan menu makanan ketika makan malam bersama keluarga, tentu tidak tepat.

berikutnya, selain definisi dan konteks yang kau temukan, kau juga harus memiliki dukungan. Keluarga, teman kerja, serta sahabat. Mereka memberikan konfirmasi bahwa keburukanmu memang sebuah keburukan. Dan mereka mendukung dirimu untuk meninggalkan keburukan itu.

Dan barulah meninggalkan keburukan itu sendiri. Yang terakhir ini akan jauh lebih mudah bila kau melalui dua proses sebelumnya.

Kau sudah mendapatkan definisi yang jelas bahwa aktivitasmu memang buruk. Lingkungan, keluarga dan orang yang di sekitarmu juga melihat hal yang sama dan mereka mendukung perubahan untuk meninggalkan keburukan.

Maka sekarang bolanya ada di tanganmu, apakah kau memang berniat untuk meninggalkannya atau tidak. Buatlah sebuah keputusan yang didasarkan atas pertimbangan yang logis dan sadar bukan atas dasar emosional semata.

Karena bila tingkah laku burukmu itu telah menjadi kebiasaan. Berarti ia telah kau lakukan selama bertahun-tahun. Dan pepatah Inggris menyebutkan “Old habits hard to die”. Kebiasaan yang lama itu memang susah matinya.

Dan oleh sebab itu, pastikan bahwa keburukanmu itu memang buruk. Pastikan keluarga dan orang-orang terdekatmu mendukungmu. Dan pastikan bahwa kau memang ingin meninggalkan keburukanmu. Wallahu a’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s