Apa Sebaiknya Dibuat Edaran Soal Internet di


Pertanyaan ini sempat booming saat facebook muncul. Terutama ketika ada games di dalamnya. Aku pun saat itu sempat tergoda. Banyak waktuku terbuang percuma di depan layar komputer.

Dan ketika menjadi manajer, aku pun menghadapi permasalahan staf yang sama. Mereka kecanduan internet. Entah itu sekadar buka facebook untuk ngecek status orang lain, atau ngecek bagaimana kondisi kerajaan maya di facebooknya.

Nah judul pertanyaan di atas, seringkali juga menggoda, apakah lebih baik dibuat peraturan soal itu? Tapi setelah aturan dibuat, siapa yang mengawasi? Bila melanggar apa hukumannya?

Tapi siapa yang mau mengawasi tiap jam apa yang dilakukan oleh staf? Apa tidak buang tenaga dan waktu? Seperti tidak ada tugas lain saja. Seorang manajer tidak hanya ngurus masalah internet stafnya khan?

Dan jujur mengawasi seperti itu tidak enak. Seolah manajer itu selalu mencari-cari kesalahan bawahannya. Aku bicara seperti itu karena aku juga pernah melakukannya.

Lalu bagaimana solusinya? Aku pun mencari. Dan tahukah kau kawan, ternyata masalah ini tidak hanya terjadi di negara berkembang macam Indonesia. Di Amerika yang katanya sudah maju juga punya masalah yang sama.

Di Amerika, kasus ini lebih dikenal dengan sebutan disengagement. Entah apa sebutannya di Indonesia, intinya mereka bekerja tapi tidak serius. Banyak waktu di kantor dibuang dengan melakukan hal-hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan.

Ada beberapa hal mendasar soal kerja yang telah mengalami perubahan. Terutama berkaitan dengan pekerja yang membutuhkan pengetahuan, istilahnya Mbah Drucker, knowledge worker.

Pekerja yang sering pakai otak beda perlakuannya dengan pekerja otot. Mereka tidak bekerja maksimal seringkali bukan masalah finansial. Jadi tidak bisa diperbaiki dengan reward and punishment biasa.
Knowledge worker ini semangat kerjanya lebih banyak dipengaruhi oleh iklim kerja. Kejelasan tugas, tanggung jawab dan wewenang, implementasi visi misi organisasi, kepercayaan kepada pimpinan, kesempatan belajar, dan beberapa hal lain di sekitar itu.

Nah edaran atau aturan yang sifatnya reward and punishment cocok untuk pekerja otot. Tapi bila untuk pekerja otak, adanya disengagement, adalah pertanda ada masalah dalam organisasi.

Pimpinan organisasi harus peka dengan masalah ini. Karena, dari beberapa buku yang kubaca soal disengagement ini, peran pimpinan yang sangat menentukan. Bila pimpinannya sendiri tidak mau tahu, saya hanya bisa ucapkan selamat datang pada rasa bosan, politik, saling gosip, dan perang dingin di kantor. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s