Perkenankan Aku Menangis


Malam takbiran harusnya menjadi malam yang menyenangkan. Tapi tidak bagiku kali ini. Entah kenapa kalimat takbir itu membuatku menangis.

Beberapa pekan terakhir, aku selalu memantau perkembangan kondisi di Gaza via internet. Aku saksikan foto dan video Gaza beserta warganya yang menjadi korban tentara Israel.

Aku membaca twit dan berita terkait Gaza yang hingga di malam takbiran masih harus bersiap-siap menyambut gempuran F16 Israel. Aku telah saksikan bagaimana keluarga-keluarga Gaza harus bersiap ketika bom dijatuhkan.

Jeritan, teriakan, dan kesedihan mereka masih membekas dalam ingatan. Teriakan seorang ibu yang mencari keberadaan buah hatinya setelah ledakan berdentum begitu menyayat hati. "Ibni ro’ah, ibni ro’ah, anakku hilang, anakku hilang." begitu sekilas yang kudengar.

Maka ketika aku mendengar dan melafadzkan takbir, yang teringat adalah bagaimana kondisi mereka sekarang? Bagaimana keadaan Gaza dan saudara-saudaraku di sana? Seketika, air mataku mengalir tak dapat kubendung.

Ya Allah anugerahkan keberkahan dalam hidupku dan hidup mereka. Anugerahkan kesyahidan kepadaku dan kepada mereka. Limpahkan kepadaku dan kepada mereka keteguhan dari sisiMu.

Di saat muslim di Surabaya bergembira dengan suara petasan dan kembang api, jauh di sana, suara-suara yang jauh lebih dahsyat selalu datang. Tinggal menunggu kabar siapakah kerabat yang syahid berikutnya.

Ya Allah perkenankan aku menangis.

Di kesempatan bahagia ini, jangan lupakan mereka. Berikan doa-doa terbaik bagi mereka. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s