Nyatanya Blokosutho itu Penting Kawan


Dulu saat masih kecil, sopan itu identik dengan menyembunyikan kejelekan. Dan bukankah kita semua diajari untuk bersikap sopan terhadap semua orang? Tapi sekarang ini blokosutho atau jujur brutal itu jauh lebih penting daripada bermanis
muka.

Bahkan pertanda dari kepemimpinan yang berhasil itu salah satunya adalah budaya blokosutho atau istilah Inggris-nya dikenal dengan candor atau candour.

Menurut oxford dictionary, Candor adalah the quality of being open and honest, atau dalam bahasa Jawa lebih gampang dikenal dengan blokosutho itu tadi.

Dan ini masih berhubungan dengan mahfudzot "Katakanlah yang benar walaupun itu pahit." Karena yang pahit dengan mengatakan kebenaran adalah jamu yang sangat mujarab. Manfaatnya sangat besar melebihi yang kaubayangkan sebelumnya.

Sudah menjadi wajar bila seorang bawahan merasa ngeri untuk berbeda dengan pimpinannya. Tapi memiliki sikap yang berbeda itu penting. Hal ini menunjukkan perbedaan cara berpikir. Hal seperti ini juga menunjukkan perbedaan prioritas.

Tidak ada manusia yang tahu akan semuanya, maka di samping pimpinan memiliki kelebihan, ia juga memiliki kelemahan. Dengan perbedaan, seorang pimpinan bisa menyempurnakan ide dan pikirannya. Ia bisa mengetahui sisi mana yang luput dari perhatiannya.

Terkadang ada pimpinan yang kuat dalam konsep teoretis tapi kurang dalam memahami realitas di lapangan. Ada juga pimpinan yang unggul dalam strategi tapi lemah dalam hubungan personal dengan karyawan.

Dan memang seperti itulah kodrat manusia, tidak ada yang bulat menonjol di semua sisinya. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Untuk itu ia butuh pendapat lain, pola pikir lain, prioritas lain yang bisa jadi tidak ia perhatikan sebelumnya.

Dan di saat seperti inilah dibutuhkan blokosutho, alias jujur brutal. Harus ada pihak lain yang berani mengkoreksi, mengurangi dan memberi tambahan kepada pola pikir pimpinannya. Harus ada perbedaan sehingga keputusan yang nantinya diambil adalah keputusan yang terbaik.

Dan untuk itu harus ada yang bersedia menelan pil pahitnya. Harus ada yang mengingatkan bahwa ada pertimbangan yang berbeda dalam mengambil keputusan. Tapi siapakah yang harus menelan kepahitan itu?

Seharusnya pola pikir yang berbeda itu tidak pahit. Bila masing-masing pihak sadar kita tidak sedang mencari siapa yang jawabannya benar atau salah. Yang sedang dicari adalah jawaban yang terbaik yang sesuai dengan kondisi.

Dan agar blokosutho, candor atau terbuka benar-benar terjadi, yang menjadi penanggung jawab adalah pimpinan itu sendiri. Ia harus sadar bahwa dia tidak mungkin memiliki semua jawaban. Dan ia harus siap menerima perbedaan.

Mudah? Ternyata tidak. Buktinya General Electric yang dipimpin oleh Jack Welch harus menghabiskan kurang lebih 10 tahun agar budaya blokosutho ini ia jumpai terutama dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.

Bila tidak ada budaya blokosutho memang kenapa? Yang paling mendasar adalah tidak akan terjadi kerjasama. Ketika keputusan yang diambil tidak melalui pertimbangan yang menyeluruh, atau keputusannya memiliki kelemahan yang seharusnya bisa dikoreksi, maka semakin banyak orang enggan ikut dalam keputusan tersebut.

Kenapa juga mereka harus mendukung keputusan yang mereka sudah tahu ada kekurangannya . Akhirnya keputusan itu hanya akan dikerjakan sekenanya dan alakadarnya.

Sisi yang lain adalah membuang-buang waktu. Ketika dalam rapat tidak ada diskusi panas berkualitas, atau peserta diskusi merasa enggan berbeda, keputusan yang dibuat tidak punya greget, dibutuhkan pertemuan-pertemuan lanjutan. Yang kemudian juga hanya membuang-buang waktu.

Dan bila budaya blokosutho tidak terjadi, yang terjadi adalah politik, lobi, rapat di dalam atau sebelum rapat. Diskusi atau rapat selalu diarahkan menyetujui keputusan tertentu. Maka bila sudah ada kondisi seperti ini, kau akan lebih banyak menjumpai politikus daripada penegak visi misi organisasi. Wallahu a’lam

3 thoughts on “Nyatanya Blokosutho itu Penting Kawan

    • Betul Mas Ryan, tidak semua orang siap dengan kejujuran. Bahkan aku sendiri juga terkadang masih terkejut dan marah ketika orang menyampaikan kekuranganku. Tapi bukankah memang tidak ada orang yang sempurna. Dengan adanya kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan sebenarnya membantu untuk berubah lebih baik dengan segera.
      Daripada harus menunggu hingga menua ternyata kita salah dalam memandang diri sendiri.

    • Ketika ada orang yang tidak siap dengan kejujuran kita, bersiaplah menerima resiko terburuk. Dan yakinlah bahwa kejujuran tanpa marah dan mengadili pasti bermanfaat, meski kadang pahit di awalnya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s