Masih Harus Belajar Bertanya


Sudah menjadi kebiasaanku, untuk selalu memunculkan pertanyaan yang berbuah diskusi. Bukan untuk memunculkan siapa yang benar dan salah. Tapi lebih pada ingin memahami jalan pikiran orang lain.

Ini tidak mudah bagi orang yang telah merasa membaca banyak literatur dan berpengalaman selama beberapa tahun. Merasa menjadi ahli itu menjebak Kawan.

Itu juga yang terjadi hari ini. Aku melakukan argumentasi dengan penuh semangat untuk mematahkan pendapat orang lain. Aku baru tersadar bahwa ternyata aku terjebak dengan ego. Aku merasa lebih tahu, merasa lebih pengalaman, merasa lebih ahli.

Padahal benar- benar ahli dengan merasa ahli itu berbeda.

Buru-buru aku menimpali pernyataan argumenku dengan pertanyaan. "Kalau menurutmu sendiri bagaimana?" Dan diskusi itupun akhirnya masih sempat terselamatkan.

Sang teman diskusi pun bersedia melanjutkan diskusi. "Fiuuuuh, untung saja masih terselamatkan." Ungkapku dalam hati.

Agaknya aku masih harus berlatih sebagaimana yang disampaikan oleh Daniel Pink dalam buku terbarunya, To Sell is Human. Aku masih harus menunggu 20 detik sebelum berkomentar.

Aku juga masih harus belajar bertanya dibanding memberi jawaban. Dan harus kuakui ini masih menjadi hal yang berat bagiku.

Bagaimana denganmu Kawan? Apa tujuanmu berdiskusi? Masuk dalam debat kusir atau diskusi ilmiah? Mana yang lebih berat bagimu? Memberi jawaban atau memberi pertanyaan? Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s