Tiap Omongan Ada Tempatnya


Dalam kalimat lengkap, mahfudzot ini berbunyi, "likulli maqoolin maqoomun wa likulli maqoomin maqoolun". Yang artinya untuk setiap perkataan ada tempatnya dan tiap tempat ada perkataannya.

Yang kupahami dengan mudah maksud mahfudzot ini adalah agar kita menempatkan perkataan tang tepat sesuai dengan tempatnya. Sehingga tidak tepat ketika berada di sekolah yang dibahas adalah hasil pertandingan sepak bola.

Tapi entah kenapa ketika sekarang aku membaca mahfudzot di atas, yang terbayangkan adalah komunikasi. Ucapan adalah salah satu bentuk komunikasi.

Dan untuk masalah komunikasi, ucapan, perkataan, diskusi tidak lagi dibatasi oleh tempat dalam arti fisik. Sangat wajar sekarang ini orang di manapun bisa mendiskusikan apapun.

Bahkan diskusi tidak dibatasi oleh kapasitas berpikir peserta diskusi. Para tukang becak bisa berdiskusi soal kenaikan BBM dan menyalahkan presiden tanpa harus tahu ilmu ekonomi atau pertambangan.

Tapi ucapan, perkataan dan diskusi itu dibatasi oleh konteksnya. Konteks diskusi BBM oleh tukang becak jelas berbeda konteksnya dengan para ekonomi meski judulnya sama, kenaikan BBM. Cakupan luas permasalahan dan sudut pandangnya jelas berbeda.

Di sisi lain, ketika membahas komunikasi, seringkali yang dibayangkan adalah keahlian berbicara. Padahal sebagian besar efektifnya komunikasi itu bukan pada ketepatan menyampaikan pendapat. Tapi lebih pada kemampuan mendengar.

Dan ketika berhubungan dengan mendengarkan, maka kemampuan untuk menangkap konteks pembicaraan adalah kemampuan yang wajib dimiliki.

Lalu apa kesimpulan mahfudzot di atas? Menurutku, mahfudzot ini mengajarkan tentang komunikasi efektif. Agar pesan yang kau sampaikan diterima dengan baik oleh orang lain, kau terlebih dahulu harus bisa mendengarkan.

Apa yang sebenarnya yang sering mereka diskusikan. Apa konteks atau isi maksud dalam diskusi tersebut. Lalu bila kau sudah bisa menangkap maksud diskusi mereka. Kau juga harus bisa menyampaikan pesan sesuai dengan konteks yang mereka pahami, dengan bahasa yang juga mereka pahami.

Maka tidak heran kalau Rasulullah mengingatkan para juru dakwah agar saat menasihati atau berdakwah, harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan yang didakwahi. Karena bila tidak, bukan saja tidak efektif tapi juga bisa menimbulkan fitnah. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s