Miskin itu Bukan Sebuah Kehinaan


Kawan, seringkali orang menilai bahwa miskin adalah tanda kehinaan, kerendahan derajat. Dan sebaliknya, kaya adalah tanda keberhasilan, kesuksesan. Tapi mahfudzot berikut lain.

"Bukanlah aib bagi orang yang fakir, tapi aib itu bagi orang yang kikir."

Artinya, kondisi kaya atau miskin itu bukan pertanda kemuliaan atau kehinaan. Karena untuk rizki yang diluaskan atau dicukupkan, adalah ketentuan Allah. Maka sebuah ketentuan tidak dapat dijadikan kriteria mulia atau hinanya seorang jiwa manusia.

Lalu apa yang menjadi penentu mulia atau hinanya manusia? Yang menjadi penentu adalah karakter, perilaku dan keputusan-keputusan yang ia buat. Maka dalam mahfudzot di atas, kikir yang menjadikan seseorang terhina.

Karena dengan segala harta yang sudah ditetapkan Allah kepadanya ia memilih untuk tidak menggunakan harta itu untuk menolong saudaranya. Itulah aib yang sebenarnya.

Bagaimana tidak? Ketika luas dan cukupnya rizki itu sudah ditentukan Allah, maka campur tangan manusia untuk meraih harta hanya minimal. Sebagian besar yang bisa mengatur semua itu adalah Allah.

Tidak percaya? Ketika kau mendapat jabatan atau posisi tinggi karena pendidikan yang kau miliki, sebenarnya sejak dini Allah telah berperan serta dalam kesuksesanmu. Bila saja Allah mentakdirkan bahwa kau lahir di keluarga broken home, berapa kemungkinan kau tidak berakhir di penjara?

Bila kau ditakdirkan Allah mengalami kecelakaan hingga buta, berapa kemungkinan dirimu bisa meraih apa yang kau dapatkan sekarang?

Bila kau ditakdirkan Allah lahir dalam wilayah peperangan, berapakah kemungkinan kau masih bernyawa hingga sekarang?

Kawan, jujurlah! Bahwa apapun keuntungan, kemuliaan, harta, jabatan, dan lain sebagainya semua itu karena takdir Allah. Banyak faktor-faktor kesuksesanmu itu terjadi karena memang Allah telah menetapkannya, dan bukan semata-mata kemampuanmu yang bisa mewujudkannya.

Maka kembali lagi, kondisi fakir atau miskin bukanlah aib. Tapi ia yang tak meyakini bahwa rizkinya telah ditetapkan Allah dan takdir Allah yang menyebabkan semua itu, hal itulah yang menjadi aib bagi manusia.

Semoga ini menjadi pengingat bagi diriku sendiri yang sering terhinggap rasa sombong, ujub, riya’, atau sum’ah dengan anugerah yang sudah Allah takdirkan buatku. Semoga Allah selalu menjaga niat ikhlas kita. Wallahu a’lam.

Blitar, 5 Desember 2014 – di sela kesibukan Rapat.

2 thoughts on “Miskin itu Bukan Sebuah Kehinaan

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s