Kriteria yang Jelas, Cara agar Tenang Delegasi Wewenang


Bagi seorang manajer, tanggung jawab yang dimiliki terkadang melebihi tenaga atau waktunya. Maka, delegasi tugas sangat penting. Namun ada lagi yang lebih penting dari delegasi tugas yakni delegasi kewenangan untuk memutuskan.

Sebagai contoh marilah kita simak sebuah dialog imajiner antara manajer (M) sebuah lembaga sosial dan stafnya (S) berikut ini.

S: Pak, ini ada seseorang yang datang meminta bantuan, apakah bisa dibantu?

M: Orangnya seperti apa?

S: Kelihatannya sih orang miskin Pak.

M: Bagaimana kau tahu dia orang miskin?

S: Dari tampang dan bajunya Pak.

M: Apakah yang menentukan miskin dan tidaknya dilihat dari tampang dan bajunya?

S: Tidak sih Pak?

M: Sini, sini, biar saya saja yang ketemu dengan orangnya.

Setelah kurang lebih 30 menit diskusi dengan tamu dan menelepon beberapa kali sang manajer memberikan hasilnya. "Ini, berikan bantuan ini kepada orang tersebut." Ucap manajer tersebut kepada stafnya.

Tak beberapa lama kejadian yang sama terulang. Sang manajer yang berdiskusi melakukan aktivitas diskusi dan menelepon, lalu hasilnya ia serahkan ke staf untuk ditindaklanjuti.

Kawan, apa yang dilakukan manajer tersebut adalah mendelegasikan tugas menyerahkan bantuan. Tapi dia belum mendelegasikan wewenang kepada stafnya dalam memutuskan apakah si A berhak mendapatkan bantuan atau tidak. Dan karena ia belum mendelegasikan wewenang dalam memutuskan, ia akan selalu terkungkung dalam tugas, wewenang dan tanggung jawab yang seharusnya bisa didelegasikan ke stafnya.

Mendelegasikan tugas itu mudah karena tugas biasanya berisikan rangkaian aktivitas yang jelas. Mendelegasikan wewenang memutuskan itu yang sulit. Tapi mendelegasikan wewenang jauh lebih penting bagi manajer sehingga ia bisa mengerjakan tanggung jawab lain. Dan bagi staf, pendelegasian wewenang akan membuat pembelajaran yang berharga dalam menumbuhkan keahlian leadershipnya.

Dalam beban tanggung jawab, ada tugas yang harus dilakukan. Tapi ada juga hak atau wewenang memutuskan yang harus dimiliki agar tanggung jawab tersebut bisa terlaksana.

Sebagaimana contoh di atas bila staf tidak memiliki wewenang memutuskan dalam memberikan bantuan atau tidak, manajer akan berulangkali turun tangan. Padahal tugas itu seharusnya bukan menjadi tugasnya. Masih banyak tanggung jawab lain yang harus ia tunaikan.

Cara yang bisa dilakukan manajer agar staf bisa mandiri dalam memberikan keputusan tapi tetap sesuai dengan koridor yang ada adalah dengan memberikan kriteria yang jelas atas wewenang keputusan yang dimilikinya.

Contoh untuk memberikan bantuan dalam kasus di atas ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, misal, kevalidan data pemohon, pemohon memang membutuhkan, dan dana tersedia.

Tiga kriteria di atas masing-masing harus dilengkapi dengan definisi operasional dan bukti bahwa definisinya telah terpenuhi.

Sebagai contoh, untuk kriteria kevalidan data pemohon, definisi operasionalnya adalah dipastikan bahwa pemohon tidak fiktif. Buktinya dengan menunjukkan identitas diri berupa KTP atau SIM.

Bila kriteria yang lain juga bisa dilengkapi definisi operasional dan buktinya, aku yakin cepat atau lambat staf akan memiliki kemampuan untuk memutuskan dengan tepat. Dan yang terpenting, manajernya akan memiliki waktu dan pikiran untuk menunaikan tanggung jawab lain yang lebih penting. Wallahu a’lam.

2 thoughts on “Kriteria yang Jelas, Cara agar Tenang Delegasi Wewenang

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s