Saat yang Kecil Bermakna Besar


Hari ini salah seorang saudaraku melangsungkan akad nikah. Sejenak aku teringat bagaimana dulu aku juga melakukan proses ijab kabul. Kata istriku proses ijab kabul atau akad nikah itu aneh. Seorang wanita yang menjaga kesucian dan kehormatannya selama puluhan tahun, dengan kalimat singkat dari seorang laki-laki, harus memberikan yang dijaganya.

Bagi seorang laki-laki, bila hanya untuk memuaskan hawa nafsu, tidaklah perlu ia menghabiskan hidupnya bersama orang yang tidak jelas perangainya. Tapi kalimat singkat yang ia ucapkan itu aneh. Ringan dalam pandangan manusia tapi berat dalam pandangan Allah, sangat berat.

Tapi memang begitulah agama kita ini. Ada hal-hal yang kontradiktif yang menjadi rahasia kebaikan. Masih ingat bagaimana kisah pembunuh 100 orang yang diampuni dan masuk dalam golongan orang yang mendapatkan surga? Atau kisah bagaimana seseorang yang menurut sahabat sangat berjasa dalam perang, tapi Nabi saw menyebutnya ahli neraka?

Dalam pandangan manusia umum, Islam itu aneh, kontradiktif. Niat yang hanya terbersit dalam hati menjadi hal penting. Sementara dalam pandangan manusia hal ini tidak pernah terlihat atau diperhatikan. Bila dalam pandangan manusia, wanita terbaik adalah yang paling cantik, paling kaya dan paling terhormat keturunannya. Tapi dalam Islam wanita yang paling baik adalah yang paling baik agamanya dan murah maharnya. Kontradiktif lagi. Wanita yang terbaik ternyata yang maharnya murah.

Pandangan manusia umum melihat murah dan ringan itu murahan. Maka kalimat ijab kabul dan mahar yang murah adalah murahan. Bandingkan dengan yang bermahar jutaan atau bahkan milyaran, maka pandangan manusia umum mengira ini adalah sesuatu yang hebat. Bukan berarti tidak boleh dengan yang mahal. Tapi itulah kontradiktif dalam Islam.

Padahal ijab kabul itu besar dan berat. Dengan ucapan ijab kabul itu, seorang suami akan ditanya akan keadaan istri dan anaknya. Dan yang menjawab bukan lagi lisan tapi tangan dan kakinya. Lalu bagaimana manusia bisa berpaling dari hari yang pasti itu.

Ijab kabul itu ringan, tapi aku yakin seorang wanita beriman tidak ingin cara lain untuk berpasangan selain dengan ijab kabul ringan itu. Meski ia mendapatkan milyaran harta, tanpa ijab kabul, tak mungkin ia rela memberikan kesucian dan kehormatan harga dirinya.

….dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar. An Nuur: 15.

Semoga Allah memberikan keberkahan saat senang dan ceria dan semoga Allah memberikan keberkahan saat susah dan berat dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.

Untuk pasanganku dan pasangan antum semua, semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya.

Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s