Ukuran Ada Tidaknya Orang Tua


"Yatim itu bukan yang telah meninggal orang tuanya tapi yatim (sejati) adalah yatim ilmu dan budi pekerti."

Kawan, aku belum menjadi orang tua. Tapi ketika aku merenungkan mahfudzot di atas, paling tidak judul di atas itulah yang terbayangkan. "Ukuran Ada dan Tidaknya Orang Tua". Apa yang seharusnya berbeda antara ada dan tidaknya orang tua?

Mahfudzot di atas memberikan jawaban yang konkrit. Bila kau menjadi orang tua, ukuran ada dan tidaknya dirimu adalah keadaan anakmu. Sudahkah mereka memiliki ilmu dan budi pekerti?

Bila ilmu dan budi pekerti anak tidak terlihat maka bisa jadi kau, orang tuanya juga tidak terlihat oleh mereka. Bila ilmu dan budi pekerti anak tidak bisa kau rasakan maka bisa jadi kau, orang tuanya, tidak dirasakan kehadirannya. Bila anak kau rasakan minim ilmu dan budi pekertinya, maka bisa jadi kau, orang tuanya juga minim mereka rasakan.

Maka bila anak-anak tak memiliki ilmu dan budi pekerti, orang tua mestinya sadar bahwa mereka yang kurang menghadirkan ilmu dan budi pekerti saat bergaul dengan anak.

Dan meski ayah dan ibu yang bertanggung jawab, kakak, paman, bibi, guru, tetangga yang lebih tua juga bisa menjadi sarana perbaikan ilmu dan budi pekerti anak.

Bukankah ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan menjadi sarana amal jariyah yang tak terputus melewati batas hidup dan mati?

Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s