Panjenengan jangan Pensiun Nggih Gus Sholah


Kau pasti tahu, satu pekan yang lalu, kisruh terjadi di Muktamar NU yang ke-33. Dan ketika itu Gus Sholah muncul sebagai jubir muktamirin yang kecewa dengan proses muktamar. Aku sedang tidak membahas kekacauannya. Aku ingin mengambil pelajaran dari Gus Sholah.

Beberapa orang mungkin berkomentar, "Sudahlah Gus, Njenengan sudah sepuh, gak usah ikut masalah-masalah seperti itu. Lebih baik Njenengan berkhidmat ngurus pondok pesantren. Jangan mau dilibatkan dalam masalah politik."

Tapi aku berbeda. Aku berharap Gus Sholah tidak pensiun untuk berperan dalam masalah seperti itu. Masalah menegakkan kebenaran tidak boleh pensiun.

Aku masih ingat sebuah cerita tentang Abu Ayyub al Anshari. Usianya 80 tahun. Tapi saat ada seruan jihad, ternyata ia masih ingin berangkat. Meski usianya sudah layak untuk pensiun dari peperangan.

Saat perang dan mengepung Konstantinopel, ada salah seorang prajurit yang melontarkan dirinya ke dalam barisan musuh. Maka pasukan muslim yang lain berkomentar bahwa orang tersebut telah menjatuhkan dirinya dalam kehancuran.

Mendengar ini Abu Ayyub mengkoreksi mereka. Memang benar ada ayat tentang larangan menjatuhkan diri dalam kehancuran tapi maksud ayat itu bukan seperti yang mereka pahami.

Ayat ini bercerita tentang kondisi para sahabat Anshor. Semasa Rasulullah saw hidup dan berdakwah di Madinah, para sahabat Anshor adalah pendukung terdepan. Dukungan ini bahkan membuat mereka mengurangi jatah pertemuan dan pemberian kasih sayang kepada keluarga. Bahkan tidak jarang ekonomi keluarga juga tak terurus.

Lalu setelah dakwah Islam menyebar, banyak orang berbondong-bondong masuk Islam, sahabat Anshor berpikir, "Mungkin inilah saatnya kami ‘pensiun’. Toh dakwah ini telah berhasil. Keluarga juga butuh kehadiran kami."

Lalu dari lontaran ucapan mereka, Allah mengingatkan, "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al Baqarah: 195)

Kawan, pensiun dalam berjihad, berjuang, melakukan amar makruf nahi munkar ternyata tidak ada pensiunnya. Malah ketika seorang muslim kemudian merasa sudah layak untuk pensiun, maka Allah mengingatkan bahwa ia akan jatuh dalam kebinasaan.

Gus Sholah, Njenengan jangan pensiun, tetaplah membela kebenaran. Semoga Allah memberikan keberkahan usia dan memberikan pengganti -pengganti Panjenengan nantinya, muslim yang kuat memegang amanah dakwah Islam. Wallahu a’lam

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s