Jangan Bertanya “Kenapa Cina?”


Mahfudzot yang satu ini sangat terkenal. Bahkan ada yang bilang mahfudzot ini adalah sebuah hadits Rasulullah. Benar atau tidak, mahfudzot ini tetap menarik untuk menjadi pelajaran. "’Uthlubil ‘ilma walaw bishshiiin ", artinya, carilah ilmu walau di negeri Cina.

Menurutku, mahfudzot ini mengajak orang untuk tidak membatasi diri dalam mencari ilmu dan mengakui keilmuan orang lain.

Ada dua orang peneliti di Australia yang sebenarnya menemukan bakteri penyebab Maag. Mendengar temuan ini ilmuwan di Eropa dan Amerika tidak percaya. Selain dua orang ini bukan peneliti murni, asalnya juga bukan dari wilayah umumnya peneliti berasal. Australia bukan asal para peneliti hebat.

Ditambah lagi dengan kepercayaan bahwa tidak mungkin ada bakteri yang bertahan dari asam lambung. Maka lengkap sudah keraguan para ilmuwan. Meski salah satu orang harus mengkonsumsi larutan penuh bakteri, tidak ada juga yang percaya.

Singkat cerita, 20 tahun berikutnya dua orang ini mendapat hadiah nobel. Cerita keraguan berubah menjadi pelajaran berharga dan ilmu yang bermanfaat.

Ada lagi kisah dari Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra. Ketika itu ia sedang memanggil seorang gubernur Mekkah. Maka sang gubernur pun datang memenuhi panggilannya.

Dalam diskusi, Umar bin Khattab bertanya, siapakah pejabat sementara pengganti.Gubernur Mekkah? Jawaban Gubernur Mekah mengejutkan. Karena ternyata sang pejabat sementara adalah seorang mantan budak yang berkulit hitam.

Umar bin Khattab mengkonfirmasi apakah yang ia dengar ini tidak salah. Seorang mantan budak berkulit hitam memimpin Mekkah?

Dan yang ia dengar memang tidak salah. Sang Gubernur menyampaikan bahwa si pejabat sementara ini adalah seorang hafidz dan telah menguasai ilmu waris.

Medengar penjelasan ini Umar merasa puas. "Memang Al-Quran mengangkat derajat seorang hamba", komentarnya.

Kawan, mungkin kau merasa heran dan tidak percaya akan kejadian-kejadian aneh di dunia. "Bagaimana mungkin orang seperti ini, tinggal di daerah seperti ini memiliki ilmu yang tinggi?"

Mungkin hampir sama dengan anehnya mahfudzot di atas. Kenapa bukan Madinah, Mekkah, Mesir, Inggris atau Jepang? Kenapa Cina? Tapi bila di Cina ilmu itu dikuasai, dikembangkan dan diajarkan, kenapa mesti bertanya kenapa Cina? Bukankah lebih baik kita belajar ke sana?

Bila ilmu itu ada di Kazakhstan, maka cari ilmu itu di sana. Bila ilmu itu ada di Kinshasha, cari juga di sana. Bila ilmu itu ada di Mozambik, ke sana juga seharusnya kau mencari. Maka di manakah ilmu itu berada? Cari dan belajarlah!
Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s